SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Pertamax Cs Berpotensi Turun, Usulan Sudah di Meja...

Bisnis

Pertamax Cs Berpotensi Turun, Usulan Sudah di Meja Pertamina

Pemerintah memberi sinyal kuat penurunan harga BBM nonsubsidi menyusul pelemahan minyak dunia, sementara harga BBM di SPBU Pertamina masih mengacu tarif awal Juli 2026.

Cek Daftar Harga BBM Hari Ini 21 Juli 2026 di SPBU Pertamina Se-Indonesia

Harga Pertamax dan kawan-kawannya agaknya tak lama lagi bakal ikut bergerak turun. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi pemerintah telah menyampaikan permintaan resmi kepada PT Pertamina (Persero) dan badan usaha BBM swasta lainnya agar segera menyesuaikan harga, seiring tren pelemahan minyak mentah di pasar global yang terus berlanjut.

"Kami sudah mulai meminta kepada badan usaha swasta, termasuk Pertamina, untuk segera melakukan penyesuaian ketika harga minyak dunia turun," ungkap Bahlil kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin malam (20/7/2026). Bukan sekadar sinyal samar. Ini instruksi yang sudah mendarat langsung ke meja Pertamina.

Sampai Selasa (21/7/2026), harga BBM di seluruh SPBU Pertamina masih mengacu pada tarif yang berlaku sejak 1 Juli 2026. Pada penyesuaian terakhir itu, Pertamina sudah memangkas harga tiga produk nonsubsidi: Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Pertamax, Pertamax Green 95, Pertalite, dan Biosolar tidak berubah. Kalau penyesuaian berikutnya terealisasi, Pertamax berpotensi menjadi produk yang paling dinantikan potongannya oleh konsumen kelas menengah.

Bahlil menegaskan fokus penyesuaian hanya menyasar BBM nonsubsidi yang selama ini mengikuti mekanisme harga pasar. Tidak ada rencana menaikkan Solar maupun Pertalite. Konsistensi yang, setidaknya, memberi kepastian bagi segmen masyarakat bawah.

Soal waktu, pemerintah belum mengunci tanggal pasti. Kementerian ESDM masih menghitung besaran penyesuaian yang dianggap ideal dan akan membahasnya bersama Pertamina serta badan usaha penyalur lain. "Kita akan melihat, saya sudah menghitung dan akan melakukan rapat dengan badan usaha dari Pertamina maupun badan usaha lain. Ketika harga minyak dunia turun, kita akan menyesuaikan," tegas Bahlil.

Formulasi yang dicari pemerintah harus menjaga keseimbangan dua sisi: tidak membebani konsumen BBM nonsubsidi, yang porsinya sekitar 20 persen dari total konsumsi dan didominasi kelompok mampu, sekaligus tetap memberi ruang bisnis yang sehat bagi Pertamina dan pemain swasta. Ibarat pedang bermata dua, terlalu agresif memotong harga bisa menggerus margin Pertamina. Terlalu lamban, dan Pertamina kehilangan relevansi di hadapan SPBU swasta yang bisa bergerak jauh lebih lincah. Pertanyaannya, seberapa dalam minyak dunia harus amblas agar Pertamina benar-benar mengumumkan penyesuaian berikutnya?

Bagi pengendara yang hari ini masih antre di SPBU, tarif yang berlaku masih tarif 1 Juli. Perbedaan harga antar daerah tetap ada, dipengaruhi besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) yang ditetapkan masing-masing pemerintah daerah. Pantauan harga terkini bisa diakses lewat aplikasi MyPertamina atau kanal resmi perusahaan.