RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Pertamax Berpeluang Turun, ESDM Tunggu Gerak Minya...

Ekonomi

Pertamax Berpeluang Turun, ESDM Tunggu Gerak Minyak Dunia

Kementerian ESDM memastikan harga BBM nonsubsidi akan menyesuaikan ke bawah jika harga minyak dunia terus melemah, menyusul anjloknya Brent dan WTI hingga 5% setelah kesepakatan damai AS-Iran.

Kementerian ESDM Pastikan Harga BBM Nonsubsidi Turun jika Minyak Dunia Turun

Harga minyak mentah Brent ambles 5,1% ke level US$ 78,96 per barel pada perdagangan Selasa, level terendah dalam tiga bulan terakhir. WTI bahkan lebih dalam, merosot 5,8% menjadi US$ 76,05 per barel. Bagi pemilik kendaraan yang masih memakai Pertamax, ini kabar yang layak dicermati.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menegaskan, mekanisme harga BBM nonsubsidi memang bekerja dua arah. Naik ketika minyak dunia naik, turun ketika minyak dunia turun. "Apakah bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi akan turun. Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan, mau tidak mau, tidak terhindarkan harga BBM non-subsidi harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya," ujar Dwi di Gedung Bakom, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026). Kalau penyesuaian tidak dilakukan, kata Dwi, keberlanjutan pengadaan energi nasional yang akan terdampak.

Pemicunya kali ini agaknya cukup fundamental. Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, plus pembukaan kembali Selat Hormuz, membuka pintu bagi Teheran untuk kembali mengalirkan minyaknya ke pasar global. Lebih banyak pasokan, tekanan harga ke bawah. Sesederhana itu.

Sebagai konteks: sebelum konflik AS-Iran memanas pada 28 Februari lalu, Brent ditutup di US$ 72,48 per barel dan WTI di US$ 67,02. Kenaikan harga minyak akibat tensi geopolitik itulah yang sebagian besar mendorong gelombang penyesuaian harga BBM nonsubsidi di banyak negara, termasuk akhirnya Indonesia.

Dwi mengakui, Indonesia sempat berupaya menahan banjir kenaikan itu. Presiden Prabowo Subianto disebut sempat memberikan arahan agar pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat sampai April lalu. Pertamax bahkan sempat menjadi satu-satunya BBM nonsubsidi yang bertahan tidak naik, sebuah langkah yang membuat negara-negara tetangga sudah lebih dahulu merasakan sengatan harga. Fluktuasi yang makin liar akhirnya memaksa tangan. Pertamax kini dijual di angka Rp 16.250 per liter.

Pertanyaannya kini: seberapa cepat penurunan ini akan ditransmisikan ke konsumen? Dwi tidak menyebut tenggat waktu. Yang dia tekankan, pelaku usaha, baik Pertamina maupun SPBU swasta, harus mengikuti harga keekonomian, ke atas maupun ke bawah. Kalau minyak dunia kembali ke level sebelum perang, bukan tidak mungkin Pertamax bisa kembali ke kisaran yang lebih ramah di kantong, entah kebetulan atau tidak, tepat saat musim libur sekolah.