RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Pertalite Rp 18.040/Liter: Harga Asli, Subsidi Jum...

Bisnis

Pertalite Rp 18.040/Liter: Harga Asli, Subsidi Jumbo, dan Gelombang Migrasi Konsumen

Struk SPBU viral memperlihatkan harga keekonomian Pertalite mencapai Rp 18.040 per liter, sementara pemerintah masih menahannya di Rp 10.000. Di lapangan, lonjakan konsumsi Pertalite mulai terasa seiring eksodus pengguna Pertamax.

Dijual Rp 16.250/Liter, Ternyata Bukan Harga Asli Pertamax

Struk pembelian BBM yang beredar di media sosial itu tampilannya sederhana. Tapi satu angka di sana bikin banyak orang berhenti scroll: Pertalite, yang selama ini dikenal sebagai BBM "murah" seharga Rp 10.000 per liter, ternyata punya harga asli Rp 18.040 per liter. Artinya, setiap liter yang masuk ke tangki kendaraan masyarakat ditopang subsidi Rp 8.040 dari kantong negara.

Struk itu merekam transaksi pada 11 Juni 2026. Bukan editan, bukan hoaks. Pertamina tidak membantah angka itu.

Nah, bagaimana dengan Pertamax? Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth M V Dumatubun mengakui bahwa kenaikan harga Pertamax dari Rp 12.300 ke Rp 16.250 per liter per 10 Juni lalu, meski terasa besar bagi konsumen, baru menyentuh sekitar 50% dari harga keekonomian yang seharusnya. "Saat ini penyesuaian kenaikan harga Pertamax masih di level sekitar 50% dari harga keekonomian, di mana dengan RON lebih tinggi dan kualitas lebih baik, harga Pertamax pasti di atas Pertalite secara keekonomian," katanya.

Angka di pasar bahkan lebih mengejutkan. VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan menyebut bahwa RON 92 di pasar global, dipicu gejolak geopolitik belakangan ini, sudah menembus kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per liter. Pertamina, katanya, berupaya keras menahan harga jauh di bawah level itu. Agaknya klaim itu masih perlu dibuktikan konsistensinya, tapi setidaknya menggambarkan besarnya tekanan yang sedang dihadapi.

Jadi duduk perkaranya begini: Pertalite bersubsidi dijual Rp 10.000, harga aslinya Rp 18.040. Pertamax tanpa subsidi resmi dijual Rp 16.250, tapi harga keekonomiannya bisa menyentuh Rp 20.000-an. Keduanya masih ditahan jauh di bawah harga pasar. Entah sampai kapan.

Dampak di lapangan sudah bergerak cepat. Di Kabupaten Temanggung, pergeseran pola konsumsi berlangsung nyata: pengguna kendaraan roda dua yang sebelumnya loyal ke Pertamax kini berbondong-bondong beralih ke Pertalite, mendorong lonjakan permintaan di sejumlah SPBU. Bupati Temanggung Agus Setyawan membenarkan tren ini sekaligus memastikan pasokan masih terkendali. Kabupaten Temanggung mendapat alokasi kuota Pertalite 84.665 kiloliter per tahun, atau sekitar 7.000 KL per bulan, dan sampai kini kuota itu dinilai masih mencukupi meski tekanan permintaan meningkat.

Di ujung timur Indonesia, Pemerintah Kota Ambon bergerak cepat meredam kegelisahan warga. Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena memastikan stok Pertalite aman setelah berkoordinasi langsung dengan Pertamina. "Depo di Ambon melayani kebutuhan Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Seluruh stok ditampung di sini sebelum didistribusikan ke daerah-daerah tersebut. Karena itu, stok masih aman dan tersedia," ujar Wattimena. Kenaikan harga BBM, tegasnya, sepenuhnya kewenangan pemerintah pusat dan berpotensi memengaruhi inflasi daerah melalui komponen administered price.

Pertanyaannya, berapa lama skema ini bisa bertahan? Subsidi Rp 8.040 per liter bukan angka kecil. Kalau konsumsi melonjak karena pengguna Pertamax migrasi massal ke Pertalite, kuota yang kelihatan aman hari ini bisa tergerus jauh lebih cepat dari proyeksi awal. Bukan main beban fiskalnya. Semakin banyak yang "turun kelas", semakin dalam kantong negara harus merogoh.