Kelangkaan Pertalite mulai terasa di banyak daerah, bersamaan dengan menjamurnya SPBU Pertamina Signature yang hanya menjual BBM non-subsidi, Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite. Bagi pengemudi yang selama ini mengandalkan BBM RON 90 ini, sinyal itu cukup untuk bikin gelisah.
Agus Pambagio, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia sekaligus pengamat kebijakan publik, tak berbasa-basi soal nasib Pertalite. "Pertalite memang sejak dulu mau dihilangkan, karena BBM subsidi. Ya, uang subsidinya enggak ada. Bahan baku BBM-nya juga enggak ada. Ya, itu kan dampak dari krisis sekarang ini," tegasnya.
Alasan penghapusan bukan semata soal beban fiskal. Ada faktor lingkungan yang agaknya jadi penentu arah kebijakan jangka panjang. Pertalite disebut masih mengandung timbal, dan emisi yang dihasilkannya baru setara standar Euro 2, jauh dari target Euro 4 yang sedang dikejar pemerintah. "Semuanya mau masuk ke Pertamax minimal. Kan itu sudah rencana puluhan tahun lalu," kata Agus.
Skema ini bukan barang baru. Pemerintah pernah menjalankan strategi serupa saat menggeser konsumen dari Premium RON 88, dimulai dari Jakarta sebelum menyebar ke seluruh Indonesia. Kali ini skenario yang sama tampaknya diputar ulang. Pertalite jadi korban berikutnya.
"Sudah berdarah-darah Pertamina. Kan utang yang dulu-dulu juga belum dibayar," ungkap Agus, menggambarkan betapa ruwetnya rantai fiskal di balik kelangkaan yang terasa di pompa bensin. Keterlambatan pencairan dana kompensasi dan subsidi dari pemerintah kerap membuat arus kas Pertamina seret, yang pada akhirnya mengganggu rantai pasok hingga ke tingkat konsumen.
Pertanyaannya: seberapa banyak kendaraan yang bakal terdampak jika Pertalite benar-benar lenyap dari pasaran?
Cukup banyak. Toyota Avanza, yang sudah lama dijuluki mobil sejuta umat, secara resmi merekomendasikan bahan bakar beroktan minimal 90 di buku manualnya, baik untuk varian 1.3 liter maupun 1.5 liter. Mitsubishi Xpander dan Xpander Cross bernasib serupa, dengan rekomendasi pabrikan yang identik. Keduanya dirancang dengan rasio kompresi antara 9:1 hingga 10:1, rentang yang klop dengan karakteristik Pertalite.
Ironisnya, mobil-mobil yang harganya lebih terjangkau justru tidak bisa menikmati kemurahan Pertalite. Seluruh kendaraan kategori Low Cost Green Car seperti Toyota Agya dan Toyota Calya wajib menggunakan bahan bakar beroktan minimal 92, alias Pertamax. Bukan sekadar anjuran. Kewajiban ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 36 Tahun 2021, yang secara eksplisit mengharuskan mobil LCGC mencantumkan informasi oktan minimal 92 pada penutup tangki dan kaca belakang kendaraan. Rasio kompresi mesin LCGC yang umumnya berkisar 10 hingga 11 memang butuh bahan bakar yang lebih "kuat" agar tidak terjadi knocking.
Artinya, penghapusan Pertalite justru paling dirasakan oleh pemilik kendaraan segmen menengah ke atas dari sisi mesin, bukan pemilik LCGC yang sudah telanjur diwajibkan memakai Pertamax. Merekalah yang selama ini menikmati selisih harga. Dan merekalah yang akan paling merasakan perubahan di dompet saat transisi ini benar-benar terjadi.