JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Permintaan Minyak Dunia Ambrol 9 Persen, Pasar Mul...

Bisnis

Permintaan Minyak Dunia Ambrol 9 Persen, Pasar Mulai Bertanya-tanya

Analis JPMorgan memperkirakan konsumsi minyak global menyusut sekitar 1,5 juta barrel per hari secara tiba-tiba dan hampir tanpa gejolak ekonomi. Pertanyaannya: apakah ini hanya sementara, atau dunia memang sudah berubah?

Dunia Diam-Diam Kurangi Konsumsi Minyak, Permintaan Anjlok 9 Persen

Angka 1,5 juta barrel per hari itu bukan angka kecil. Yang membuat trio analis JPMorgan terkejut bukan sekadar besarannya, melainkan betapa senyapnya proses penurunan itu terjadi.

Dalam catatan kepada klien, setelah serangkaian pertemuan dengan pelaku pasar di China, Natasha Kaneva, Lyuba Savinova, dan Artem Fakhretdinov menyimpulkan bahwa permintaan minyak dunia kemungkinan sudah menyusut sekitar 9 persen secara tiba-tiba, tanpa menimbulkan guncangan besar terhadap aktivitas ekonomi maupun kehidupan sehari-hari. "Temuan paling mencolok dari pertemuan kami bukan hanya bahwa permintaan minyak turun, tetapi kemungkinan telah menyusut hingga 9 persen atau sekitar 1,5 juta barrel per hari secara tiba-tiba, tak terduga, dan dengan gangguan yang sangat minim," tulis mereka.

Konteksnya penting. Selat Hormuz, salah satu koridor terpenting bagi perdagangan minyak dunia, sudah tertutup selama tiga bulan terakhir. Secara historis, skenario semacam ini mestinya memicu lonjakan harga yang dramatis. Harga minyak justru relatif terkendali di kisaran 100 dollar AS per barrel, hanya sempat melonjak sesaat di fase awal konflik sebelum kembali stabil. Bak gayung bersambut, pasar seolah sudah siap.

JPMorgan menyebut tiga faktor penentu: pasar yang sejak awal tahun sudah kelebihan pasokan, pemanfaatan cadangan energi oleh pemerintah dan swasta, serta yang paling menentukan, demand destruction. Ketika harga energi terlalu mahal, konsumen tak menunggu imbauan pemerintah untuk berhemat. Mereka sekadar berhitung.

Itulah yang agaknya sedang terjadi secara masif. Para analis menegaskan bahwa penurunan permintaan ini bukan buah dari program konservasi formal atau pembatasan mobilitas yang dipaksakan. Tidak ada lockdown energi, tidak ada seruan kolektif dari pemerintah. Yang ada adalah keputusan ekonomi jutaan konsumen di seluruh dunia: bus listrik menggantikan perjalanan darat berbahan bakar fosil, kereta cepat menggeser penerbangan jarak pendek, taksi listrik dan angkutan gas semakin dilirik.

Fenomena ini ternyata juga terjadi di luar China, meski negara itu punya karakteristik pasar yang paling mencolok. Di Asia Tenggara, sejumlah negara dilaporkan memangkas hari kerja dan hari sekolah demi menghemat energi. India mendorong langkah konservasi di level nasional. Lufthansa, maskapai asal Jerman, mulai memangkas frekuensi penerbangan pada rute-rute regional yang dianggap kurang prioritas. Amerika Serikat relatif lebih terlindungi karena ketergantungannya terhadap minyak Timur Tengah memang lebih rendah, meski harga bensin di sana tetap bertahan di atas 4 dollar AS per galon menjelang musim liburan musim panas. Periode yang biasanya mendongkrak konsumsi bahan bakar. Tahun ini, agak lain ceritanya.

Pertanyaannya bukan soal apakah konflik akan berakhir atau harga akan terkoreksi. Yang lebih mengganggu: seberapa besar penurunan permintaan ini bersifat sementara, dan seberapa besar mencerminkan perubahan struktural jangka panjang? JPMorgan sendiri mengakui bahwa perkembangan di China dan Eropa memunculkan kemungkinan baru bahwa dunia ternyata bisa berfungsi dengan konsumsi minyak yang jauh lebih rendah dari sebelumnya. "Apakah dunia sebenarnya dapat beroperasi dengan konsumsi minyak sekitar 9 persen lebih sedikit?" tulis para analis.

Bagi investor di sektor energi, ini bukan sekadar berita jangka pendek yang bisa diabaikan. Kalau 9 persen penurunan permintaan itu ternyata tidak sepenuhnya berbalik setelah kondisi normal, kalkulasi valuasi emiten-emiten minyak dan gas perlu dihitung ulang dari awal. Rp1 kuadriliun lebih kapasitas pasar global bisa terdiskon. Angka yang tidak main-main.