SABTU, 19 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Perang Iran Memanas, Ekonomi RI Diuji di Hari yang...

Ekonomi

Perang Iran Memanas, Ekonomi RI Diuji di Hari yang Sama

Eskalasi militer Iran-UEA mengguncang Wall Street dan mendorong harga minyak ke level tertinggi, tepat di hari Indonesia merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang diperkirakan menjadi yang terbaik era Prabowo.

Harga minyak melonjak lebih dari 5% dalam semalam. Wall Street ambruk. Dan hari ini, Indonesia harus mengumumkan pertumbuhan ekonominya kepada dunia.

Momen yang tidak ideal, jujur saja.

Eskalasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak pada Senin (4/5/2026) setelah Uni Emirat Arab menyatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi serangan 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat drone yang datang dari Iran. Tiga orang dilaporkan luka sedang. Sistem pencegat UEA berhasil menahan sebagian besar serangan, tapi pasar tidak butuh konfirmasi kerusakan fisik untuk bereaksi. Harga minyak mentah WTI langsung melonjak 4,39% ke US$106,42 per barel, sementara Brent melesat 5,8% ke US$114,44 per barel.

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar berita geopolitik di halaman luar. Gangguan Selat Hormuz langsung menyentuh neraca impor migas, tekanan nilai tukar, hingga tarif tiket pesawat yang sudah lebih dulu mendorong inflasi April.

Wall Street merespons dengan serius. Dow Jones tergerus 557 poin atau 1,13% ke 48.941,90. S&P 500 melemah 0,41% ke 7.200,75. Nasdaq relatif lebih tahan, turun tipis 0,19% ke 25.067,80. Yang paling babak belur adalah saham-saham logistik. Amazon mengumumkan membuka jaringan pengiriman sendiri untuk bisnis, dan pasar langsung menghukum para pesaingnya: GXO Logistics anjlok hampir 18%, UPS dan FedEx masing-masing rontok 10% dan 9%.

Di Jakarta, IHSG berhasil menutup sesi dengan kenaikan tipis 0,22% ke 6.971,95, meski perjalanannya jauh dari mulus. Indeks sempat naik lebih dari 1% di sesi pagi, lalu terpangkas, sempat masuk zona merah, memantul, dan akhirnya parkir di level itu setelah sempat menyundul 6.946 jelang penutupan. Cukup untuk membuat pelaku pasar gelisah.

Tiga penopang utama: Telkom Indonesia (TLKM), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Barito Renewables Energy (BREN). Yang paling membebani adalah GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), amblas 5,56% ke level 51. Nilai transaksi Rp21,03 triliun terlihat ramai, tapi sebagian besar disumbang crossing saham PT Pinago Utama Tbk (PNGO) senilai Rp5,24 triliun melalui pasar negosiasi.

Rupiah tidak seberuntung IHSG. Kurs ditutup melemah 0,35% ke Rp17.365 per dolar AS, sekaligus mencetak rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah. Ini pelemahan hari keempat beruntun.

Data inflasi April yang dirilis BPS justru memberi sedikit napas. Inflasi bulanan tercatat 0,13%, jauh di bawah konsensus 0,43%. Inflasi tahunan sebesar 2,40%, juga di bawah perkiraan median 2,72% dari 13 institusi yang disurvei CNBC Indonesia. Tekanan harga datang terutama dari transportasi udara dan bensin, sementara tomat dan minyak goreng ikut menyumbang. Inflasi inti bertahan di 2,40% yoy, angka yang memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk tidak buru-buru bergerak.

Satu data yang agaknya lebih mengkhawatirkan tersimpan di laporan PMI manufaktur. S&P Global mencatat PMI Indonesia di 49,1 pada April, kontraksi pertama dalam delapan bulan dan terendah sejak Juli 2025. Produksi turun, pasokan bahan baku tersendat, daya beli pelanggan melemah. Satu-satunya penahan: pesanan baru masih sedikit naik, itu pun diduga karena pemesanan lebih awal untuk mengantisipasi kenaikan harga. Bukan tanda permintaan yang sehat.

Untuk neraca dagang, hasilnya lebih melegakan. Surplus Maret 2026 tercatat US$3,32 miliar, melonjak dari US$1,27 miliar di Februari. Surplus kumulatif Januari hingga Maret menjadi US$5,55 miliar, dengan nonmigas menyumbang US$10,63 miliar. Defisit migas masih membebani di US$5,08 miliar, angka yang berpotensi makin tebal jika harga minyak tetap tinggi.

"Surplus Maret ditopang komoditas nonmigas terutama minyak dan lemak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja," jelas Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS. Surplus ini melanjutkan tren positif yang sudah berlangsung 71 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Hari ini, semua mata tertuju pada rilis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026. Konsensus dari 12 lembaga memperkirakan ekonomi tumbuh 5,40% yoy, yang kalau terkonfirmasi akan menjadi angka tertinggi sejak kuartal III-2022 dan pencapaian terbesar di era Presiden Prabowo Subianto. Ramadan dan Lebaran yang jatuh di kuartal pertama secara historis mendorong konsumsi, dan efek tersebut diharapkan masih cukup kuat. Secara kuartalan, kontraksi sekitar 1% dibanding kuartal IV-2025 sudah diantisipasi.

Pertanyaannya, apakah angka 5,40% cukup untuk menenangkan pasar, atau akan tenggelam di bawah kebisingan geopolitik?

Selain BPS, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dijadwalkan menggelar konferensi pers merespons data PDB, sementara Menteri Keuangan Purbaya Sadewa akan membeberkan kondisi APBN per April lewat APBN KiTa edisi Mei. OJK juga menggelar Rapat Dewan Komisioner Bulanan secara virtual, yang antara lain diharapkan memberi penjelasan soal agenda perombakan MSCI dan reformasi bursa.

Tiga konferensi pers besar dalam satu hari. Rupiah di rekor terlemah. Perang yang belum reda. Jawabannya baru bisa dilihat saat sesi sore ditutup.