KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Perak Tutup Pekan di US$76,56, Terjepit The Fed da...

Bisnis

Perak Tutup Pekan di US$76,56, Terjepit The Fed dan Bara Timur Tengah

Harga perak dunia menutup perdagangan sepekan di level US$76,56 per troy ounce, bergerak liar namun nyaris tak kemana-mana, dihimpit ekspektasi kenaikan suku bunga Fed dan ketegangan AS-Iran yang tak kunjung reda.

Perak Liar Tak Tentu Arah, Tertekan Bayang-Bayang The Fed & Iran

Volatil tapi stagnan. Itulah cara paling jujur menggambarkan perak pekan ini.

Logam mulia itu menutup perdagangan Jumat (22/5/2026) di level US$76,56 per troy ounce, turun tipis dari posisi Kamis di US$76,69. Angka penutupan itu terlihat kalem di permukaan. Padahal perjalanannya dalam lima hari terakhir sama sekali tidak. Perak sempat amblas ke US$73,82 pada Senin sebelum memantul kembali ke kisaran US$76, sebuah ayunan yang mencerminkan betapa pasar betul-betul kesulitan menentukan arah.

Konteks koreksinya jauh lebih brutal kalau ditarik sedikit ke belakang. Pada 13 Mei, perak masih diperdagangkan di US$87,97 per troy ounce. Dalam hitungan hari, harganya rontok lebih dari 13%. Bukan penurunan biasa.

Dua tekanan besar mendominasi. Pertama, konflik AS-Iran yang membuat harga minyak bertahan di level tertinggi empat tahun. Kenaikan energi menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi, dan dari sana investor mulai memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve kembali mengetatkan kebijakan moneter. Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 55% bahwa Fed akan menaikkan suku bunga 25 basis poin sebelum Oktober. Gubernur Fed Christopher Waller bahkan secara terbuka menyatakan bank sentral AS sebaiknya mulai meninggalkan bias pelonggaran kebijakan moneternya.

Bagi perak, sinyal itu berat sekali dicerna. Berbeda dari emas yang lebih murni berperan sebagai safe haven, perak punya karakter ganda yang justru jadi kelemahannya di momen seperti ini. Ia dipandang sebagai aset lindung nilai, tapi di saat yang sama sangat sensitif terhadap suku bunga karena tidak menawarkan imbal hasil. Ketika ekspektasi bunga tinggi menguat, obligasi pemerintah AS tiba-tiba terlihat jauh lebih menarik. Investor pun bergeser.

Sempat ada ruang napas. Pasar berharap negosiasi AS-Iran menghasilkan sesuatu setelah media Iran melaporkan adanya pembicaraan lanjutan soal proposal penghentian perang. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengakui terdapat sedikit perkembangan dalam proses mediasi. Tapi optimisme itu cepat layu. Reuters melaporkan pemimpin tertinggi Iran tetap bersikeras stok uranium dipertahankan di dalam negeri, sikap yang langsung berbenturan dengan tuntutan AS dan Israel yang menginginkan material uranium dipindahkan keluar sebagai bagian dari kesepakatan damai. Situasi makin pelik setelah muncul laporan Iran mempercepat pemulihan kapasitas militernya, ditambah wacana pembentukan sistem pungutan permanen di Selat Hormuz, jalur yang menanggung sebagian besar perdagangan minyak dunia.

Secara tahunan, perak sebetulnya masih bisa membusungkan dada. Mengacu data Trading Economics, harganya tercatat melonjak lebih dari 125% dibanding periode sama tahun lalu. Masif, memang. Tapi dalam basis bulanan, performanya nyaris diam di tempat. Perbandingan itu makin terasa getir kalau disandingkan dengan lithium yang melesat 182% secara tahunan, atau emas yang masih menguat sekitar 34% dengan volatilitas yang jauh lebih jinak. Entah kebetulan atau tidak, justru logam yang paling banyak diperbincangkan tahun ini yang kinerjanya paling susah dibaca.

Di dalam negeri, harga perak Antam ikut tertekan mengikuti tren global. Investor yang sudah telanjur masuk di level tinggi kini harus bersabar.

Pertanyaannya sekarang bukan apakah perak akan rebound. Katalis apa yang cukup kuat untuk membalikkan dua tekanan besar ini sekaligus, kalau memang ada?