Enam bulan setelah tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel, Ayatollah Ali Khamenei akhirnya akan dimakamkan dalam serangkaian prosesi yang dirancang sebagai salah satu upacara pemakaman terbesar dalam sejarah modern Timur Tengah.
Panitia penyelenggara resmi mengumumkan jadwal lengkap acara perpisahan, tasyi', dan penguburan Pemimpin Revolusi Islam Iran itu berlangsung 4 hingga 9 Juli 2026, tersebar di beberapa kota dengan puncak prosesi di Mashhad.
Rangkaian dibuka pada 4-5 Juli dengan upacara perpisahan di Musala Imam Khamenei, aula salat agung di Teheran, untuk jenazah Khamenei beserta empat anggota keluarganya yang ikut tewas dalam serangan 28 Februari itu: Mesbah al-Hoda Baqeri Kani, Seyyedeh Boshra Hosseini Khamenei, Zahra Haddad Adel, dan Zahra Mohammadi Golpayegani. Prosesi berlanjut di Teheran pada 6 Juli, lalu kota suci Qom keesokan harinya.
Yang agaknya belum banyak disorot adalah rencana iring-iringan jenazah melewati Irak pada 8 Juli sebelum tiba di Mashhad. Wali Kota Teheran Alireza Zakani mengonfirmasi dalam pernyataan yang dikutip AFP, meski rute lengkap di Irak belum diumumkan. Irak, sebagai negara berpenduduk mayoritas Syiah, merupakan rumah bagi dua situs paling sakral dalam Islam Syiah: makam Imam Hussein di Karbala dan Imam Ali di Najaf. Bisa jadi prosesi ini dirancang sebagai pesan simbolik yang jauh melampaui sekadar logistik pemakaman. Pihak berwenang Irak sendiri belum memberikan komentar resmi.
Jenazah akhirnya dimakamkan di kompleks makam suci Imam Reza di Mashhad pada 9 Juli, bertepatan dengan 24 Muharram dan malam peringatan kesyahidan Imam Sajjad. Sesuai wasiat Khamenei semasa hidup.
Soal skala, angka yang disebut pejabat Iran memang tidak main-main. Zakani memperkirakan hampir 20 juta orang akan hadir di Teheran saja, jumlah yang disebutnya belum pernah ada sepanjang sejarah ibu kota. Sebagai pembanding, pemakaman pendiri Republik Islam Ruhollah Khomeini pada 1989 dihadiri sekitar 10 juta orang. Rekor yang kini tampaknya akan dilampaui. Pelayat diprediksi berdatangan dari Pakistan, Afghanistan, India, hingga Bangladesh.
Pertanyaannya, mengapa butuh hampir lima bulan?
Dalam tradisi Syiah, jenazah seyogyanya dimakamkan sesegera mungkin. Entah kebetulan atau tidak, jeda panjang ini berbarengan dengan eskalasi konflik pasca-serangan, saat Iran membombardir kota-kota Israel dengan rudal dan drone sekaligus menghancurkan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan.
Kalau jadwal ini berjalan sesuai rencana, dunia menyaksikan pemakaman kenegaraan dengan skala yang, secara historis, sulit ditandingi.