JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  PDB Indonesia 5,61% di Kuartal I-2026: Kuat, tapi...

Bisnis

PDB Indonesia 5,61% di Kuartal I-2026: Kuat, tapi Jangan Terlalu Pede

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% YoY pada kuartal pertama 2026, melampaui konsensus dan menjadi yang tertinggi sejak kuartal ketiga 2022. Tapi ada beberapa catatan penting yang perlu dicermati sebelum terlalu optimistis.

Angka 5,61% itu tidak kecil.

BPS merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 pada Selasa (5/5), mencatat ekspansi 5,61% YoY. Angka ini melampaui ekspektasi konsensus di level 5,4% sekaligus lebih tinggi dari realisasi kuartal sebelumnya yang 5,39%. Dibanding periode yang sama tahun lalu, selisihnya bahkan mencapai 74 basis poin, karena 1Q25 hanya tumbuh 4,87%.

Ini pertumbuhan tertinggi sejak kuartal ketiga 2022. Pasar sempat merespons positif.

Dua komponen yang paling mencolok dari sisi pengeluaran: konsumsi pemerintah dan investasi. Belanja pemerintah melonjak 21,81% YoY, didorong pembayaran gaji ke-14 atau THR plus realisasi program Makan Bergizi Gratis. Investasi alias PMTB tumbuh 5,96% YoY, sejalan dengan realisasi investasi yang naik 7,2%. Hilirisasi tetap jadi motor utama, industri logam dasar menyumbang Rp69,4 triliun, dan kontribusi sektor hilirisasi terhadap total investasi kuartal ini nyaris menyentuh 30%.

Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52%, terkerek momentum Lebaran yang tahun ini jatuh di kuartal pertama. Pengeluaran kategori restoran dan hotel naik 7,38%, transportasi dan komunikasi 6,91%. Seasonal effect yang lumayan kentara.

Ketua Komisi XI DPR, Misbakhun, menyebut angka ini bukti ketangguhan ekonomi Indonesia menghadapi tekanan global yang tidak ringan. Agaknya tidak berlebihan, mengingat kondisi geopolitik yang sedang tidak kondusif, mulai dari ketegangan di Selat Hormuz hingga perang tarif yang belum benar-benar mereda.

Tapi ada satu komponen yang mengganjal: net ekspor amblas 25% YoY. Ekspor relatif stagnan, sementara impor naik 7,2%, terutama ditarik barang modal seperti mesin dan peralatan mekanis yang masing-masing naik 24% dan 22%. Itu sinyal investasi yang sehat, kalau data ini bisa dipercaya sebagai indikator jangka menengah. Hanya saja, dalam jangka pendek, ia tetap membebani neraca perdagangan.

Pertanyaannya: apakah laju ini bisa dipertahankan?

Jujur saja, bisa jadi tidak semudah itu. Pertama, efek low-base yang mendongkrak angka kuartal ini, yakni 1Q25 yang hanya 4,87%, tidak akan ada di kuartal-kuartal berikutnya. Kedua, ruang fiskal makin sempit. Keputusan mempertahankan harga BBM bersubsidi di tengah harga minyak yang terkerek konflik Iran membuat kebutuhan subsidi energi meledak, dan itu mengorbankan ruang belanja untuk program-program lain. Ketiga, keyakinan konsumen sedang tidak prima, dan ketidakpastian global yang masih tinggi bisa menahan keputusan investasi swasta.

Target APBN 2026 ada di 5,4%. Kuartal pertama sudah lewat dengan cukup nyaman. Tapi tiga kuartal berikutnya akan jauh lebih menguji, terutama kalau tekanan eksternal tidak mereda dan belanja pemerintah terpaksa lebih selektif.

Angka 5,61% itu pencapaian nyata. Bukan undangan untuk bersantai.