RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Pasca Perang AS-Iran: Pasar Bernapas Lega, Geopoli...

Internasional

Pasca Perang AS-Iran: Pasar Bernapas Lega, Geopolitik Timur Tengah Berubah

Perjanjian damai AS-Iran yang ditandatangani 19 Juni 2026 langsung mengguncang pasar global. Harga minyak Brent amblas dari USD113 ke USD79 per barel, sementara 11 tokoh puncak Iran dilaporkan tewas selama konflik.

Iran-US ceasefire impact: Oil prices drop, Hormuz to see 'controlled' movement; global markets surge - The Times of India

Perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran ditandatangani pada Jumat, 19 Juni 2026, mengakhiri konflik bersenjata yang berlangsung hampir empat bulan sejak 28 Februari 2026. Perang ini merenggut nyawa sederet tokoh puncak Iran, mulai dari Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei hingga para panglima militer, total 11 nama besar yang menjadi korban konflik paling menentukan di kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade.

Pasar global tidak butuh waktu lama untuk merespons. Harga minyak mentah Brent, yang sempat meledak ke USD113 per barel pada puncak eskalasi di 6 April 2026, kini tergerus hingga USD79 per barel setelah blokade Selat Hormuz resmi dibuka sebagai bagian dari syarat kesepakatan. Investor yang berbulan-bulan menahan napas akhirnya membuang napas panjang.

Selat Hormuz bukan jalur laut biasa. Sekitar 20 persen suplai minyak dan gas alam dunia melewati titik sempit itu setiap harinya. Penutupannya selama konflik berlangsung menciptakan tekanan berlapis di hampir semua lini ekonomi global, dari energi, logistik, sampai pangan.

Indonesia, meski jauh dari zona tembak, kena tampar cukup keras. Harga BBM nonsubsidi, Dex, Dexlite, dan Pertamax, terkerek mengikuti harga minyak internasional. Yang memperparah situasi adalah anomali di pasar uang: rupiah amblas ke Rp18.200 per dolar AS, bukan karena fundamental domestik goyah, melainkan murni terseret gejolak geopolitik yang ribuan kilometer jauhnya.

Sepanjang konflik, efek berganda kenaikan harga energi sudah terasa ke mana-mana. Ongkos produksi naik, biaya distribusi melonjak, tekanan inflasi merambat ke harga-harga kebutuhan pokok. Ancaman krisis pangan membayangi banyak negara importir, terutama yang bergantung pada jalur pengiriman Timur Tengah. Cukup untuk bikin pemerintah manapun gelisah.

Kini pertanyaan besarnya sudah bergeser. Bukan lagi soal berapa harga minyak besok, tapi soal kekosongan kekuasaan di Tehran. Dengan runtuhnya sejumlah tokoh kunci, siapa yang naik? Ke mana arah politik luar negeri Iran selanjutnya? Apakah peta kekuatan baru di Timur Tengah justru membuka babak ketegangan berikutnya, khususnya menyangkut posisi Israel yang sejak awal konflik berdiri di garis yang berbeda?

Bagi pelaku pasar, euforia jangka pendek ini, kalau data historis bisa dipercaya, agaknya tidak akan bertahan lama. Transisi kekuasaan di Teheran selalu berkorelasi dengan volatilitas harga minyak. Investor yang sudah terlalu nyaman di angka USD79 mungkin perlu pasang kuda-kuda.