Sepanjang momentum Iduladha pekan ini, pasar ayam nasional menyajikan pemandangan yang sulit dicerna logika awam. Di Pasar Botania, Batam, harga ayam potong segar dijual Rp44.000 hingga Rp46.000 per kilogram. Data Bank Indonesia melalui PIHPS mencatat harga daging ayam ras sempat menyentuh Rp53.000 per kilogram pada Kamis (28/5), sebelum koreksi mendekati Rp39.000. Di kandang-kandang peternak mandiri di Jawa Tengah, ayam hidup dilepas Rp15.000 per kilogram, padahal biaya pokok produksinya sudah di atas Rp19.000.
Selisih Rp38.000 dari kandang ke meja pasar. Bukan kekeliruan data. Angka itu adalah cermin retak dari rantai distribusi unggas nasional yang panjang dan pekat, dan peternak ada di ujung yang paling dirugikan.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Mukhlis Wahyudi menyebut kondisi ini sudah berlangsung menahun. Produksi ayam pedaging nasional sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 4,3 miliar ekor, sedangkan kebutuhan domestik, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekitar 4,1 miliar ekor. Rata-rata per bulan ada surplus. "Kalau di tingkat konsumen sampai Rp51.000-Rp53.000, berarti ada middleman yang bermain. Karena stoknya berlimpah," tegasnya.
Di Pulau Jawa, harga ayam hidup sempat turun ke Rp15.500 per kilogram di tingkat kandang. Di Kalimantan Selatan tidak jauh berbeda, berkisar Rp17.000-Rp20.000, meski biaya produksi di sana justru lebih tinggi. Penurunan harga di kandang tidak otomatis diikuti turunnya harga di pasar konsumen karena distribusi masih sangat bergantung pada broker dan bandar lintas wilayah yang mengendalikan margin tengah.
Pemerintah bergerak. Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) memanggil Asosiasi Rumah Potong Unggas Indonesia (ARPHUIN) dan pelaku RPHU untuk rapat koordinasi darurat. Hasilnya: seluruh rekomendasi pelaku usaha perunggasan di Ditjen PKH ditangguhkan sementara sampai harga kandang kembali ke level acuan pemerintah, yakni Rp19.500 per kilogram. Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH I Ketut Wirata menyebut kondisi saat ini "sangat berat" bagi peternak mandiri. "Peternak besar mungkin masih bisa bertahan karena ditopang modal yang kuat. Tapi bagi peternak mandiri, kondisi ini bisa mempercepat proses gulung tikar," ujarnya.
Dari sisi RPHU, Keenan Pardede yang mewakili PT Charoen Pokphand Indonesia mengklaim kapasitas pemotongan sudah dimaksimalkan, hampir 400 truk per hari. Mengikuti harga acuan pemerintah Rp19.500 per kilogram pun ia sebut sebagai "beban produksi yang cukup berat" di tengah tekanan biaya operasional. Ketua ARPHUIN Sigit Pambudi menolak narasi bahwa rumah potong mengambil keuntungan dari situasi ini. Selama libur panjang sekalipun, kata Sigit, kegiatan pemotongan tetap berjalan penuh untuk menyerap pasokan peternak. "Situasi yang kami hadapi memang sama-sama sulit," katanya. Setidaknya itu klaim mereka.
Bapanas turut menggelontorkan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang sejak Januari 2026 sudah menjangkau 5.037 kegiatan di 37 provinsi dan 417 kabupaten/kota. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyebut GPM cukup efektif menahan kenaikan harga pangan menjelang Iduladha.
Para ekonom punya catatan tersendiri. Peneliti Indef Afaqa Hudaya menilai GPM hanyalah peredam sementara. "Pasar murah bukan solusi struktural," kata dia. Akar persoalannya bukan pada stok, melainkan pada logistik, distribusi, dan efisiensi rantai pasok yang masih terlalu panjang. Pembenahan cold chain, penguatan stok antardaerah, dan sistem peringatan dini harga berbasis data real time dinilai jauh lebih mendesak ketimbang terus-menerus menggelar pasar murah. Pertanyaannya, berapa lama pemerintah mau bertahan dengan resep yang sama?
Rp44.000-Rp46.000 per kilogram di Pasar Botania, tapi lapak pedagang justru sepi. Volume penjualan Andri, salah satu pedagang di sana, amblas separuh dari hari biasa, dari 300 kilogram menjadi 150-200 kilogram per hari. Warga masih menguras stok daging kurban. Paradoks berlapis: harga tinggi, konsumen menahan dompet, peternak merugi. Yang cuan? Agaknya ada yang diam-diam menikmati jalur distribusi itu, tanpa nama, tanpa sorotan.