Sudah tiga dekade lebih AS menjaga pintu Selat Hormuz. Kini, salah satu mantan pejabat tinggi militernya sendiri mempertanyakan: untuk apa?
Jenderal (Purn) Mark Kimmitt, mantan asisten menteri luar negeri AS untuk urusan politik dan militer, menyuarakan pendapat yang tidak populer di Washington tapi agaknya makin relevan seiring eskalasi konflik dengan Iran. Pesannya sederhana: sudah saatnya AS angkat kaki dari kawasan Teluk, dan biarkan negara-negara setempat mengurus sendiri persoalan mereka.
"Itu uang pajak saya. Uang keluar dari kantong saya sebagai warga Amerika untuk membantu menyediakan pertahanan bagi kawasan Anda," tegasnya kepada Al Jazeera. Kalimat itu pedas, tapi bukan tanpa dasar.
Kimmitt menggarisbawahi tiga poin. Pertama, negara-negara Teluk seharusnya mampu menghadapi Iran secara mandiri tanpa harus selalu bersandar pada payung militer Washington. Kedua, kalau AS memang merasa wajib terlibat, fokusnya cukup di Israel, bukan memproteksi seluruh kawasan. "Kita tentu bisa melindungi Israel di Israel, dan kita bisa membiarkan negara-negara Teluk mengurus diri mereka sendiri," katanya. Ketiga, pendekatan pengawalan kapal di Selat Hormuz yang kini dipertimbangkan Washington bukan sesuatu yang baru, ini mengulangi pola yang sama persis dengan strategi era Perang Teluk.
Bukan main.
Ketegangan Washington-Teheran memang kembali mendidih. Iran, menurut kalangan analis, memandang konfrontasi ini bukan sekadar soal nuklir atau sanksi, melainkan sebagai "pertempuran eksistensial" yang menuntut respons maksimal. Artinya, setiap langkah AS di kawasan itu berpotensi memancing eskalasi yang jauh lebih luas.
Satu pertanyaan jujur sempat dilontarkan analis Elmasry: apakah manuver terbaru Trump di kawasan ini murni kebijakan strategis, atau sekadar cara untuk menggerakkan pasar menjelang sesi pembukaan bursa hari Senin? Pertanyaan retoris, tapi cukup menggambarkan betapa sulitnya membaca sinyal dari Washington saat ini.
Keterlibatan militer AS di Timur Tengah selama puluhan tahun tidak pernah benar-benar menghasilkan stabilitas yang permanen. Iran tetap ada. Ketegangan regional terus berputar. Anggaran pertahanan AS terus terkuras. Kimmitt, dengan segala pengalamannya, bisa jadi sedang membaca tanda-tanda yang sudah lama diabaikan.
Yang patut dicermati, perdebatan ini tidak muncul dari kalangan aktivis perdamaian atau politisi oposisi. Ia datang dari seorang jenderal berbintang yang pernah langsung mengurusi kebijakan militer AS di kawasan paling bergejolak di dunia. Kalau orang seperti Kimmitt sudah mulai mempertanyakan relevansi kehadiran AS di Teluk, bisa jadi ada lebih banyak orang di dalam sistem yang berpikir serupa tapi belum berani angkat suara.
Apakah Washington akan mendengar? Itu pertanyaan lain.