JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Pabrik BYD Subang Diresmikan 3 September, Industri...

Bisnis

Pabrik BYD Subang Diresmikan 3 September, Industri Komponen Lokal Menanti Janji

Peresmian pabrik BYD di Subang pekan ini menjadi momentum yang ditunggu industri komponen domestik, sekaligus ujian nyata apakah investasi EV China ini bakal lebih dari sekadar kegiatan merakit.

Industri Komponen Domestik Minta BYD dan Vinfast Bangun Rantai Pasok di Indonesia

Kamis ini, 3 September 2026, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir di Subang Smartpolitan Industrial Park untuk meresmikan pabrik perakitan kendaraan listrik BYD di atas lahan 126 hektare. Momen yang sudah lama dinantikan banyak pihak, dan tidak sedikit pula yang menunggu dengan skeptis.

Ini molor dari target awal. BYD sebelumnya menyebut pabrik Subang bakal beroperasi di kuartal pertama 2026, artinya paling lambat Maret. Per Juli 2026, nama BYD belum muncul di data produksi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang mencakup 26 merek. Absen total.

Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengakui keterlambatan itu sambil menegaskan persiapan peresmian sudah berjalan matang. Beberapa unit kendaraan disebut sudah diproduksi di fasilitas Subang, digunakan untuk display showroom, test drive, dan pengujian. Tiga model yang kabarnya bakal diproduksi secara lokal adalah BYD M6 DM, M6 EV, dan Atto 1, meski Luther belum mengonfirmasi secara resmi.

Di balik seremonial itu, ada pertaruhan yang jauh lebih besar. Industri komponen domestik memasang mata. Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmad Basuki menyebut komunikasi antara pemasok lokal dan BYD sebenarnya sudah berjalan cukup lama, difasilitasi pemerintah lewat business matching. Yang belum jelas adalah seberapa dalam BYD mau membangun rantai pasok di sini, bukan sekadar merakit.

Khawatir itu beralasan. Pabrikan EV dari China punya kecenderungan membawa ekosistem pemasoknya sendiri. Kalau hanya merakit di sini sementara komponen utama tetap diimpor, nilai tambah ekonomi yang tersisa di Indonesia akan tipis sekali.

"Kalau kita lihat, sebenarnya rantai value chain 70 persen dari kendaraan berasal dari part atau komponen itu sendiri," ujar Rachmad. Angka yang seharusnya membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum puas dengan kehadiran pabrik perakitan semata.

Instrumen utama pemerintah untuk mendorong lokalisasi adalah kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Berdasarkan peta jalan yang berlaku, TKDN kendaraan listrik ditargetkan minimal 40 persen pada 2026, naik ke 60 persen di periode 2027-2029, lalu mencapai 80 persen mulai 2030. Produsen yang memenuhi ketentuan ini berhak atas insentif pemerintah. Yang tidak memenuhi, agaknya akan menghadapi tekanan lebih berat.

Kemenperin mencatat dari program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang berjalan sejak 2021, kini terdapat 322 pemasok komponen yang mendukung 16 perusahaan perakitan, tumbuh 127 persen sejak program dimulai, dengan penyerapan sekitar 195.000 tenaga kerja langsung. Realisasi investasi sudah melampaui Rp 5,5 triliun dari total komitmen Rp 21,2 triliun.

"Kita tidak ingin pasar domestik kita hanya dijadikan pasar tanpa membangun basis produksi di sini sehingga nilai tambah ekonominya tidak ada di Indonesia," tegas Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief.

Vinfast dari Vietnam juga disebut-sebut akan menyusul membangun fasilitas produksi di Indonesia. Rachmad mengakui komunikasi formal antara GIAMM dan Vinfast belum terjadi, tapi ia yakin tekanan TKDN bertahap akan mendorong B2B antara Vinfast dan pemasok lokal pada waktunya.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia, Saleh Husin, punya pandangan yang lebih struktural. Insentif pemerintah, menurutnya, terlalu lama diarahkan untuk mendorong penjualan kendaraan dan akhirnya dinikmati konsumen serta pemegang merek. Sudah waktunya insentif itu digeser ke hulu. "Insentif itu lebih harus didorong untuk supply chain-nya, untuk industri-industri komponen sehingga industri komponennya tumbuh dengan sendirinya. Industri otomotifnya menjadi lebih kuat untuk punya daya saing," katanya.

Saleh mengingatkan pengalaman program LCGC. Waktu itu TKDN dipatok 80 persen sejak awal, dan hasilnya industri komponen lokal benar-benar ikut tumbuh. "Waktu launching dulu mobil LCGC, itu kan dipaksa TKDN-nya harus 80 persen. Akibatnya, industri komponen di dalam negerinya ikut tumbuh," ujarnya. Pendekatan serupa, dengan kewajiban yang diperketat secara bertahap, perlu jadi template untuk gelombang investasi EV yang masuk sekarang.

Pabrik Subang bukan tanpa catatan lain. Sebelum peresmian, fasilitas itu sempat diwarnai keluhan pungli dan insiden kebakaran di area bukan produksi. Detail yang mungkin tidak akan muncul dalam pidato seremonial, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa membangun ekosistem industri baru tidak pernah semulus brosur investasi.