SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  OJK Buka Suara soal Rumor Haji Isam Caplok BCA

Bisnis

OJK Buka Suara soal Rumor Haji Isam Caplok BCA

OJK memastikan akan mengevaluasi setiap potensi perubahan kendali bank secara menyeluruh, menyusul isu pengambilalihan BCA oleh konglomerat Kalimantan Haji Isam yang sudah dibantah manajemen perseroan sejak akhir September lalu.

OJK Pantau Perubahan Kendali BCA dan Risiko Perbankan

Sudah tiga pekan rumor itu beredar di media sosial. Baru pekan ini OJK angkat bicara.

Regulator jasa keuangan memastikan setiap transaksi yang berpotensi mengubah pemegang saham pengendali bank akan dinilai sesuai ketentuan yang berlaku, menyusul isu pengambilalihan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) oleh Andi Syamsuddin Arsyad, konglomerat batu bara asal Kalimantan yang lebih dikenal sebagai Haji Isam.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menegaskan pihaknya senantiasa mencermati dinamika kepemilikan saham dan struktur pengendalian di industri perbankan. "OJK tetap memastikan bahwa setiap perubahan kepemilikan dan pengendalian bank dilakukan sesuai dengan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta ketentuan mengenai kepemilikan dan pengendalian bank yang berlaku," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2026).

Dalam perspektif prudensial, kata Dian, perubahan kepemilikan pada bank besar tidak cukup dilihat dari sisi transaksi saham semata. OJK juga menelaah potensi dampaknya terhadap profil risiko bank, konsentrasi eksposur, transaksi dengan pihak terkait, kualitas tata kelola, serta keterkaitan bank dengan kelompok usaha di bawah kendali pemegang saham baru. "Apabila terdapat perubahan pengendalian yang bersifat material, OJK akan mencermati dampaknya secara menyeluruh, antara lain terhadap struktur persaingan industri, strategi bisnis bank, penyaluran kredit, likuiditas, permodalan, tata kelola, serta potensi konsentrasi risiko," tegasnya.

Wajar kalau regulator bergerak hati-hati. Skala BCA bukan kaleng-kaleng. Per Juni 2026, bank ini membukukan total aset Rp1.661 triliun, kredit Rp1.036 triliun, dan dana pihak ketiga Rp1.284 triliun. Lebih dari 41 juta rekening nasabah mengandalkan layanannya setiap hari. Perubahan kendali di institusi sebesar ini, kalau benar terjadi, bukan sekadar aksi korporasi biasa. Bukan main.

Manajemen BCA sendiri sudah lebih dulu memadamkan api rumor ini. Sejak 25 September 2026, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn memastikan informasi yang beredar di media sosial tidak benar. "Kami mengimbau nasabah dan masyarakat untuk mengakses informasi dari sumber-sumber yang resmi, baik dari situs resmi perusahaan maupun outlet media yang kredibel. BCA senantiasa beroperasi berdasarkan prinsip kehati-hatian, berintegritas, dan sesuai regulasi yang berlaku," kata Hera.

Bantahan manajemen sudah keluar lebih dari tiga pekan sebelum OJK bicara, tapi isu ini agaknya terlalu besar untuk sekadar dibiarkan menguap sendiri. Respons OJK bisa dibaca sebagai sinyal bahwa regulator ingin pasar tahu: ada gerbang regulasi yang harus dilewati siapa pun yang ingin mengendalikan bank sistemik, dan gerbang itu tidak mudah dilalui. Pertanyaannya, berapa lama rasa penasaran pasar ini bertahan?

Bandingkan dengan kasus PT Bayan Resources Tbk yang sempat dibantah tetapi perubahan kendalinya akhirnya terkonfirmasi. Sejarah itu, entah kebetulan atau tidak, membuat sebagian pelaku pasar tetap menyimpan rasa penasaran, meski OJK dan BCA sudah kompak menyatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Harga saham BBCA, salah satu saham paling likuid di bursa, menjadi cermin seberapa serius pasar menanggapi isu ini.