Gelombang PHK kembali menghantam Netflix. Perusahaan streaming terbesar di dunia itu memangkas sekitar 1.000 karyawan, setara 6% dari total tenaga kerja globalnya, dalam langkah efisiensi paling masif sejak 2022.
Kabar ini menyebar lewat memo internal yang dikirim Co-CEO Ted Sarandos dan Greg Peters kepada seluruh karyawan. Pemangkasan paling berdampak di divisi produk, teknologi, hukum, dan sumber daya manusia. "Misi kita untuk menghibur dunia adalah ambisius, dan untuk mewujudkannya, kita harus disiplin dalam menentukan prioritas penggunaan tenaga kerja dan sumber daya," tulis keduanya. Sarandos dan Peters juga menegaskan bisnis Netflix masih solid dan berada di jalur target setahun penuh, seraya berjanji terus berinvestasi agresif di area-area berdampak tinggi. Klaim yang, jujur saja, akan diuji pasar 20 Oktober nanti.
Angka keuangannya memang masih impresif. Sepanjang 2025, Netflix membukukan pendapatan $45,2 miliar atau sekitar Rp737 triliun, naik 16% dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih tembus $11 miliar, naik 26%. Lebih dari 325 juta pelanggan global. Posisi raja streaming belum tergoyahkan. Tapi pasar tidak hanya membaca angka kemarin, mereka membaca sinyal esok hari.
Sinyal itulah yang agaknya membuat investor gelisah. Waktu menonton konten Netflix, atau yang di laporan internal disebut engagement, cenderung stagnan di paruh pertama 2026. Penambahan pelanggan baru dalam beberapa kuartal terakhir lebih banyak ditopang dua faktor yang bersifat satu kali: kebijakan pembatasan berbagi kata sandi dan peluncuran paket murah berbasis iklan. Begitu dua pendorong itu kehilangan momentum, pertanyaannya sederhana. Dari mana pertumbuhan berikutnya?
Sarandos sendiri, berbicara di konferensi Bloomberg Screentime beberapa pekan lalu, sempat mengakui Netflix "tidak tumbuh secepat yang saya inginkan." Jarang sekali kalimat seperti itu keluar dari mulut CEO kelas berat. Pasar langsung memasang radar.
Persaingan juga makin brutal. YouTube disebut sebagai ancaman terbesar saat ini, terutama untuk memperebutkan waktu layar pengguna di segmen konten kasual. Konsolidasi antara Paramount dan Warner Bros Discovery yang digagas Skydance berpotensi melahirkan rival baru yang diperkuat gabungan Paramount+ dan HBO Max, dua platform dengan library konten yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Untuk mengimbangi, Netflix memperluas wilayahnya ke luar streaming konvensional: siaran olahraga langsung, podcast, dokumenter, video game. Masuk akal di atas kertas. Tapi ekspansi ke segala penjuru membutuhkan sumber daya besar, dan bak pedang bermata dua, tiap rupiah yang keluar untuk diversifikasi menekan margin kalau tidak diimbangi efisiensi di tempat lain. PHK kali ini, dalam konteks itulah harus dibaca.
Netflix memproyeksikan pendapatan 2026 di kisaran $51,0 miliar hingga $51,4 miliar, tumbuh 13%-14% dengan target margin operasional 31,5%, naik dari 29,5% pada 2024. Target ambisius yang mensyaratkan struktur biaya jauh lebih ramping dari sekarang. Laporan keuangan kuartalan dijadwalkan rilis 20 Oktober 2026, dan pasar sudah menunggu memverifikasi apakah narasi manajemen sesuai angka aktual.
Netflix bukan satu-satunya yang memilih jalan ini. Bulan lalu Disney mengumumkan PHK sekitar 300 karyawan, dengan dampak terbesar di divisi SDM dan teknologi. Era bakar uang di industri hiburan digital sudah berakhir. Siapa yang paling cepat beradaptasi dengan disiplin biaya ketat, dia yang bertahan paling lama.