Lima korban yang seharusnya ia lindungi justru harus merogoh kocek lebih dari 75 juta dolar AS, sekitar Rp1,3 triliun, karena informasi negosiasi mereka bocor ke tangan peretas yang tengah mereka hadapi.
Angelo Martino, 41 tahun, divonis 70 bulan penjara oleh pengadilan federal Amerika Serikat setelah terbukti bersekongkol dengan kelompok ransomware BlackCat, atau dikenal juga sebagai ALPHV. Ia bukan hacker biasa. Ia negosiator, orang yang seharusnya ada di sisi korban.
Martino bekerja di perusahaan keamanan siber DigitalMint sejak November 2022 hingga April 2025. Posisinya memberi akses ke informasi paling sensitif dalam sebuah krisis ransomware: batas nilai pertanggungan asuransi siber korban, tawaran tebusan yang sedang berjalan, hingga strategi negosiasi internal. Semua itu ia gunakan untuk kepentingan sendiri. Ibarat dokter yang menjual rekam medis pasien ke pihak yang ingin mencelakai mereka.
Sejak April 2023, Martino mulai menghubungi operator BlackCat lewat aplikasi pesan Tox dan kanal obrolan khusus yang hanya bisa diakses negosiator dan afiliasi grup tersebut. Informasi yang ia bagikan memungkinkan peretas mengetahui persis seberapa jauh korban bisa diperas. Sebagai imbalan, ia mendapat potongan dari setiap pembayaran tebusan dalam bentuk kripto.
Pada Mei 2023, Martino resmi bergabung sebagai afiliasi BlackCat dan membagikan akses tersebut kepada dua rekannya: Kevin Martin, sesama negosiator di DigitalMint, dan Ryan Goldberg, manajer insiden di perusahaan keamanan siber Sygnia. Ketiganya kemudian menggunakan platform BlackCat untuk melancarkan serangan ransomware terhadap lima target baru. Salah satunya, sebuah perusahaan alat kesehatan, membayar tebusan 1,2 juta dolar AS. Uang itu dicuci, lalu dibagi tiga.
Hasilnya? Pemerintah AS menyita aset kripto dan barang mewah senilai lebih dari 10 juta dolar AS yang dibeli Martino dari hasil kejahatan: dua rumah di Florida, sebuah kapal nelayan mewah, truk makanan, dan sejumlah kendaraan lain. Kripto yang masih tersisa langsung disita FBI.
"Angelo Martino mengkhianati para korban yang seharusnya ia wakili, menyerahkan posisi negosiasi rahasia mereka kepada pelaku BlackCat untuk menaikkan uang tebusan dan memperkaya dirinya sendiri," kata Asisten Direktur Divisi Siber FBI Brett Leatherman.
Martino sempat meminta keringanan hukuman menjadi 24 bulan dengan alasan telah membantu penyelidikan yang berujung pada penangkapan Martin dan Goldberg. Pengadilan tidak tergerak. Vonis 70 bulan dijatuhkan sesuai rekomendasi pemerintah, dan ia diwajibkan menyerahkan aset serta membayar 10 persen penghasilannya setelah bebas sebagai ganti rugi bagi korban. Martin dan Goldberg sendiri lebih dulu divonis empat tahun penjara pada April 2026.
Pihak DigitalMint mengklaim tidak mengetahui apa yang dilakukan Martino selama bekerja di sana. Perusahaan menyebut Martino sengaja menyembunyikan aksinya lewat saluran komunikasi tidak resmi. Begitu menerima informasi dari Departemen Kehakiman AS, DigitalMint langsung memecat semua karyawan yang terlibat.
BlackCat beroperasi dengan model ransomware-as-a-service, menyewakan akses malware kepada afiliasi independen dengan sistem bagi hasil. Masif. Puncak reputasi mereka tercipta pada Februari 2024 ketika serangan terhadap Change Healthcare mengganggu sistem pembayaran layanan kesehatan di seluruh AS dan mengekspos data medis lebih dari 192 juta orang.
Pertanyaannya, berapa banyak lagi Martino versi lain yang masih beroperasi di balik layar? Kasus ini agaknya menjadi preseden penting: penegak hukum kini membidik seluruh ekosistem yang menopang industri ransomware, dari afiliasi, pencuci uang, hingga negosiator yang ternyata bermain dua kaki.