KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Negara-negara Teluk Mulai Jaga Jarak dari Washingt...

Internasional

Negara-negara Teluk Mulai Jaga Jarak dari Washington, Rangkul Teheran

Konflik terbaru di kawasan memaksa UEA, Arab Saudi, dan Kuwait mempercepat diversifikasi mitra keamanan, sekaligus membuka jalur rekonsiliasi dengan Iran yang selama ini dihindari.

Kawasan Teluk menyesuaikan strategi pertahanannya.

Serangan drone Iran yang menembus pertahanan udara AS di kawasan Teluk bukan sekadar insiden militer. Bagi para pemimpin di Abu Dhabi, Riyadh, dan Kuwait City, itu adalah momen yang mempertegas sesuatu yang agaknya sudah lama mereka curigai: payung keamanan Amerika tidak sekuat yang tertulis di atas kertas.

Sepanjang konflik yang pecah akhir Februari lalu, beberapa fasilitas vital di kawasan terdampak langsung. Pelabuhan minyak Fujairah di Uni Emirat Arab dihajar serangan udara Iran. Gangguan di Selat Hormuz menimbulkan kerusakan ekonomi yang tidak kecil, sementara Washington tampak belum punya jawaban konkret untuk skenario penutupan jalur vital itu.

"Komitmen AS terhadap keamanan tidak lagi dapat diandalkan seperti dulu," kata Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, London. Kalimat pendek. Tapi bobotnya berat bagi kawasan yang selama beberapa dekade membangun arsitektur keamanannya di atas fondasi kemitraan dengan Washington.

Proses pergeseran ini sebenarnya sudah berjalan sebelum konflik meletus. UEA, Arab Saudi, dan Kuwait telah memperkuat kerja sama pertahanan dengan negara-negara Eropa dan Asia jauh sebelum pecahnya perang. Konflik hanya mempercepat arah kebijakan yang diam-diam sudah dijalani. Dua pejabat Teluk yang tidak disebutkan identitasnya mengonfirmasi bahwa diskusi internal soal pengurangan ketergantungan pada AS kini masuk ke tahap konkret, sambil tetap menjaga hubungan dengan mitra-mitra yang masih diakui Washington.

Para analis regional meyakini AS tidak akan serta-merta ditinggalkan. Terlalu besar investasi militer dan diplomatiknya di kawasan untuk diabaikan begitu saja. Tapi kalimat "mitra yang tak tergantikan" kini agaknya perlu dibaca dengan tanda bintang.

Yang lebih mengejutkan adalah pergeseran sikap terhadap Iran. Fawaz Gerges, peneliti Timur Tengah, menyebut semakin banyak negara Teluk yang akhirnya mengakui realitas yang selama ini enggan mereka terima: Iran akan terus eksis, dan masih punya kapasitas untuk mengguncang stabilitas regional kapan pun mereka mau. Bukan pilihan yang menyenangkan. Tapi rupanya lebih masuk akal ketimbang terus bersandar pada perlindungan yang terbukti bolong.

Kontak-kontak dengan Teheran pun mulai diperkuat. Negara-negara Teluk kini aktif menjajaki kesepakatan keamanan dan ekonomi dengan Iran, sebuah langkah yang beberapa tahun lalu hampir mustahil terbayang terjadi dalam tempo secepat ini. Sebelum perang, pertanyaan besar di kawasan berkutat pada seberapa jauh normalisasi Arab-Israel bisa meluas. Sekarang, fokusnya sudah bergeser: rekonsiliasi antara Teluk dan Iran.

Bagi pelaku pasar, dinamika ini bukan sekadar geopolitik abstrak. Kawasan Teluk menyimpan sebagian besar cadangan minyak dunia, dan Selat Hormuz adalah urat nadi energi global. Setiap perubahan arsitektur keamanan di sana punya implikasi langsung ke harga energi dan sentimen pasar. Entah kebetulan atau tidak, indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah menjelang sejumlah perkembangan diplomatik terkait kawasan ini, sinyal bahwa pasar mulai memperhitungkan ulang distribusi kekuatan geopolitik yang sedang berubah.

Pertanyaannya bukan lagi apakah negara-negara Teluk akan mendiversifikasi mitra keamanan mereka. Pertanyaannya: seberapa jauh, dan seberapa cepat.