JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  N219 dan Kertajati: Ketika Pemerintah Mulai Serius...

Bisnis

N219 dan Kertajati: Ketika Pemerintah Mulai Serius Urus Dirgantara Sendiri

Kemenhub membuka jalan bagi pesawat N219 buatan PTDI untuk mengisi rute perintis, sementara Bandara Kertajati disiapkan jadi hub MRO kedirgantaraan nasional.

Kemenhub mendukung pesawat N219 untuk penerbangan perintis - ANTARA News Gorontalo

Dua kabar besar datang sekaligus dari sektor penerbangan nasional, dan keduanya punya benang merah yang sama: pemerintah sedang serius mendorong kemandirian industri dirgantara Indonesia.

Kementerian Perhubungan secara resmi membuka pintu bagi pesawat N219 produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk masuk ke pasar penerbangan perintis. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa menegaskan dukungan penuh terhadap produk lokal itu, meski prosesnya harus melewati tahapan teknis dan regulasi yang tidak bisa dilewati begitu saja. "Pasti kita dukung. Produk dalam negeri pasti kita dukung," ujar Lukman, Kamis (16/7). Soal kesiapan armada, kata Lukman, bergantung pada jadwal PTDI sendiri.

N219 memang dirancang untuk kondisi yang membuat maskapai konvensional gigit jari. Pesawat berkapasitas 19 penumpang ini mampu lepas landas dari landasan sepanjang sekitar 800 meter, bahkan di permukaan yang tidak diaspal. Bagi daerah-daerah terpencil yang landasan udaranya jauh dari kata ideal, kemampuan itu kebutuhan nyata, bukan sekadar keunggulan teknis. Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut banyak kepala daerah sudah mengacungkan tangan, membutuhkan konektivitas udara yang lebih taktis untuk wilayah yang terhalang pegunungan dan hutan lebat.

Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan mengonfirmasi bahwa N219 dibidik untuk pasar komersial, baik untuk layanan penghubung antarprovinsi maupun pengangkutan kargo. Agaknya, PTDI memandang jendela ini cukup lebar untuk dimasuki, selama ekosistem pendukungnya dibangun bersamaan. Salah satu yang sedang digarap adalah sertifikasi SDM lokal melalui peran Aircraft Maintenance Training Organization (AMTO). Klaim yang masih perlu dibuktikan realisasinya di lapangan.

Sementara N219 mencari jalur masuk ke langit perintis, di darat ada proyek besar lain yang sedang disiapkan. Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka akan dikembangkan menjadi pusat Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat. Ambisius, memang, bagi bandara yang selama ini belum beroperasi maksimal. Kolaborasi antara PTDI dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (Perseroda) menjadi motor penggeraknya, dengan rencana yang bahkan mencakup pembangunan kawasan industri kedirgantaraan atau aerospace industrial zones di sekitar bandara.

Lukman memastikan ekspansi ke MRO tidak akan mengorbankan fungsi yang sudah berjalan. "Terkait dengan Kertajati, memang akan difungsikan untuk MRO, tetapi fungsi untuk penerbangan jamaah haji, umrah tetap di situ," ujarnya. Layanan penerbangan haji dan umrah sudah dioperasikan dari Kertajati sejak 2023. Bandara dengan kapasitas terminal 5,6 juta penumpang per tahun ini, kata Lukman, cukup untuk menampung dua fungsi sekaligus.

AHY juga menyinggung faktor demografis Bandung yang kian sesak sebagai alasan tambahan untuk mengalihkan pengembangan industri ke Kertajati. Secara geografis, lokasi Majalengka memang menawarkan ruang yang tidak tersedia lagi di kota-kota besar Jawa Barat. Bak gayung bersambut, kondisi itu justru memperkuat argumen pemerintah bahwa Kertajati bukan pilihan cadangan, melainkan pilihan strategis.

Dua langkah ini, mendorong N219 ke rute perintis dan menjadikan Kertajati hub MRO, sulit dibaca secara terpisah. Keduanya bagian dari strategi yang sama: mengurangi ketergantungan Indonesia pada pesawat asing dan fasilitas perawatan di luar negeri. Pertanyaannya tinggal satu, apakah eksekusinya akan secepat pengumumannya.