Dua puzzle besar industri penerbangan Indonesia sedang disatukan. Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) didorong masuk ke rute-rute perintis dengan infrastruktur serba terbatas, sementara Bandara Kertajati di Majalengka disiapkan jadi kawasan industri kedirgantaraan yang menghubungkan koridor Rebana hingga Semarang.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyebut permintaan dari kepala daerah sudah jelas: mereka butuh konektivitas udara yang taktis, bukan masif. Banyak wilayah dengan kondisi geografis berat, pegunungan, hutan lebat, landasan pacu seadanya, tidak bisa dilayani pesawat berbadan lebar. Di situlah N219 masuk. "Ini benar-benar pengembangan dan produksi dalam negeri di mana komponen TKDN-nya sudah lebih dari 46 persen. Dan ini sesuatu yang sangat baik," kata AHY.
Angka 46 persen TKDN bukan sekadar klaim kebanggaan. Ini sinyal bahwa rantai pasok industri pesawat nasional mulai terbentuk, meski masih panjang jalan menuju kemandirian penuh. N219 dirancang mampu mendarat di landasan tak beraspal sepanjang kurang dari 800 meter dengan kapasitas 19 penumpang, cukup untuk penghubung antarkabupaten atau pengiriman kargo ke pelosok. Bukan pengganti Twin Otter secara resmi, tapi secara fungsi, cerminnya serupa.
Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan mengatakan pihaknya akan masuk ke segmen komersial, baik untuk penghubung di tingkat provinsi maupun untuk bisnis, dengan N219 digunakan untuk penumpang atau kargo. Bagi PTDI, ini bukan sekadar ekspansi pasar. Ini soal kelangsungan industri. Perusahaan kini juga menjalankan fungsi sebagai Aircraft Maintenance Training Organization (AMTO) untuk mencetak SDM lokal yang bisa menopang ekosistem penerbangan jangka panjang, termasuk untuk operasional N219 itu sendiri.
Sisi lain dari puzzle ini ada di Kertajati. Bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Soekarno-Hatta, dengan kapasitas 5,6 juta penumpang per tahun, selama ini dicap setengah tidur karena minimnya rute komersial reguler. Pemerintah kini mendorongnya jadi aerospace industrial zone lewat kolaborasi PTDI dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat.
Pilihan Kertajati bukan tanpa kalkulasi. Posisinya di kawasan Cirebon-Patimban-Kertajati (Rebana) strategis: ke barat tembus Jakarta dan kawasan industri Bekasi-Karawang-Purwakarta, ke timur menuju Cirebon lalu masuk Jawa Tengah hingga Semarang, ditambah Pelabuhan Patimban sebagai titik logistik. Ke selatan, Kertajati diharapkan jadi feeder untuk kabupaten-kota di selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bandung, yang semakin sesak oleh tata ruang dan kepadatan penduduk, tidak bisa lagi jadi satu-satunya tumpuan.
Kemenhub memastikan, meski Kertajati beralih fungsi sebagai hub MRO dan kawasan industri, penerbangan haji dan umrah tetap berjalan dari sana. Fungsi yang sudah berjalan sejak 2023 itu tidak akan dihapus.
Pertanyaannya tentu soal eksekusi. Kawasan industri kedirgantaraan butuh ekosistem yang tidak bisa dibangun dalam satu dua tahun. N219 pun masih harus melewati proses sertifikasi komersial yang tidak sederhana. Kalau dua inisiatif ini benar-benar berjalan beriringan, agaknya kita sedang menyaksikan sesuatu yang berbeda dari upaya-upaya sebelumnya. Tapi "agaknya" itu kata kunci yang belum bisa dibuang.