Harga minyak mentah jebol ke bawah USD 80 per barel, dan Presiden Prabowo Subianto rupanya sudah menyinggung ini bahkan sebelum pasar sempat bereaksi penuh.
CEO Danantara Rosan Roeslani membeberkan bahwa dalam pertemuan dengan bankir-bankir Himbara di Istana, Kamis (18/6/2026) malam, Prabowo langsung menyebut dampak kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Penandatanganan dilakukan Trump di Versailles, setelah KTT G7. "Apalagi tadi disampaikan juga, dengan kesepakatan dari Presiden Trump dan juga pemerintah Iran, harga minyak juga tadi disampaikan sudah menurun di bawah 80 (USD per barrel), dan harapannya ini juga akan memberikan sentimen yang positif terhadap perekonomian kita," kata Rosan, mengutip pesan Prabowo malam itu.
Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi sorotan utama. Jalur itu biasanya menanggung sekitar seperlima pasokan minyak dunia, dan selama lebih dari tiga bulan tersumbat setelah Teheran menutupnya sebagai respons atas serangan militer AS dan Israel yang dimulai 28 Februari 2026. Konflik itu memicu gelombang inflasi yang terasa sampai ke neraca rumah tangga di banyak negara. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang menjadi mediator, menyebut pembukaan selat sebagai langkah pertama dari komitmen yang juga mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS.
Tapi ada rem yang masih ditahan pasar. Kepala baru Federal Reserve Kevin Warsh, dalam rapat kebijakan perdananya, secara eksplisit menyoroti tekanan harga yang masih dirasakan masyarakat AS. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun belum sepenuhnya hilang, dan itu cukup untuk meredam euforia.
Dari sisi dalam negeri, narasi "Sell Indonesia" yang ramai beberapa pekan terakhir mulai mendapat perlawanan berbasis data. Ekonom Senior Indef Didik J Rachbini menunjuk angka-angka fiskal yang, kalau data ini bisa dipercaya, cukup menyegarkan: defisit APBN hingga Mei 2026 baru menyentuh 0,7% dari PDB, penerimaan fiskal tumbuh 19% secara tahunan, ditopang penerimaan pajak yang melonjak 22%. Realisasi pembiayaan anggaran sudah mencapai Rp 379,4 triliun, setara 55,1% dari target tahunan. "Pengelolaan APBN kita masih di jalur sehat. Pendapatan fiskal melonjak 19% (yoy) per Mei 2026, didorong penerimaan pajak yang tumbuh 22%," tegas Didik.
Bukti lain datang dari pasar obligasi internasional. Danantara Investment Management berhasil menerbitkan obligasi global senilai USD 1,5 miliar, dengan permintaan investor yang membengkak hingga USD 4,6 miliar, tiga kali lipat dari target awal USD 1 miliar. Angka yang tidak kecil. Akademisi Universitas Esa Unggul Iswadi menyebut keberhasilan itu secara lugas sebagai bukti bahwa pasar global justru sedang "Buy Indonesia". "Keberhasilan Danantara membuktikan trust investor global ke Indonesia tetap kuat. Ini mematahkan narasi 'Sell Indonesia'. Faktanya, pasar global justru sedang 'Buy Indonesia'," ujar Iswadi.
Data utang luar negeri per April 2026 menunjukkan pertumbuhan yang melambat menjadi 1,9% secara tahunan, sinyal bahwa sektor swasta memilih hati-hati di tengah dinamika global yang belum selesai. Ekonom Myrdal Gunarto menilai strategi diversifikasi pembiayaan pemerintah, termasuk Panda Bond yang menawarkan yield lebih kompetitif, sudah berada di jalur yang tepat.
Paralelnya terlihat di pasar keuangan. Sepanjang pekan 8-12 Juni, IHSG melonjak 7,38% sebelum sempat konsolidasi. Pada Kamis (18/6), indeks ditutup naik 0,78% ke level 6.172,34. Rupiah, yang pernah menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS, terakhir diperdagangkan di Rp 17.794. Agaknya mulai menemukan fondasi.
Prabowo dalam pertemuan yang sama juga menekankan soal ketahanan pangan dan peran bank Himbara sebagai tulang punggung pembiayaan nasional. Kapitalisasi pasar gabungan empat bank pelat merah itu disebut mencapai sekitar Rp 1.100 triliun, sekitar 10% dari total nilai seluruh perusahaan nasional. Pertanyaannya, cukupkah fondasi itu menahan guncangan berikutnya jika damai AS-Iran kembali goyah? Veteran pasar tahu: bak gayung bersambut, sentimen positif datang beruntun, tapi bisa pergi lebih cepat dari datangnya.