RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Minyak Dunia Terkoreksi, Tapi Risiko Geopolitik Be...

Bisnis

Minyak Dunia Terkoreksi, Tapi Risiko Geopolitik Belum Kemana-mana

Harga minyak WTI dan Brent kompak melemah pada akhir pekan, namun ancaman gangguan pasokan dari ketegangan geopolitik global membuat proyeksi harga tetap berada di level tinggi hingga akhir tahun.

Proyeksi Harga Minyak Tetap Tinggi di Akhir Tahun

Harga minyak mentah kompak melemah di akhir pekan, tapi jangan buru-buru menafsirkan ini sebagai sinyal pembalikan tren. WTI ditutup di level US$82,58 per barel pada Jumat (28/8), terkoreksi 1,14% secara harian. Brent sedikit lebih tahan banting: US$87,84 per barel, turun 0,84%.

Koreksi ini terjadi setelah minyak sempat menguat beberapa sesi sebelumnya, didorong kekhawatiran pasokan yang belum juga reda. Bukan tanpa alasan pasar was-was. Ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan strategis masih menghantui jalur distribusi energi global, dan salah satu yang paling diperhatikan pasar veteran adalah dinamika di sekitar Selat Hormuz, pintu keluar sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Prospek normalisasi pasokan dari Timur Tengah kian suram. Pembicaraan soal Hormuz tersendat, ditambah batalnya sejumlah kesepakatan diplomatik terkait Iran. Pasar, agaknya, sudah memperhitungkan skenario ini sejak jauh hari, yang menjelaskan kenapa koreksi Jumat terasa dangkal meski secara teknikal ada ruang untuk amblas lebih dalam.

Brent di kisaran US$87 per barel itu bicara banyak, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin ekspektasi jangka menengah. Bagi Indonesia, level ini cukup untuk membuat neraca perdagangan terasa lebih berat di sisi impor. Di sisi lain, bak gayung bersambut, emiten energi yang selama ini tertekan margin justru bisa bernapas lebih lega. Investor saham sektor migas dan energi di Bursa Efek Indonesia layak melirik lagi.

Apakah koreksi akhir pekan ini berlanjut? Bisa jadi, kalau sentimen risk-off global menguat dan dolar AS terus mengeras. Tapi selama sumber ketegangan di Timur Tengah belum ada resolusi konkret, setiap penurunan harga yang dalam kemungkinan besar disambut aksi beli. Proyeksi harga tinggi hingga penghujung 2025 bukan sekadar asumsi optimistis. Setidaknya, begitu kira-kira kalkulasi pasar sekarang.