RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Minyak Bisa Tembus USD 110 jika Konflik AS-Iran Ta...

Bisnis

Minyak Bisa Tembus USD 110 jika Konflik AS-Iran Tak Mereda

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memperingatkan harga minyak dunia berpotensi melonjak melampaui USD 110 per barel jika konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus berlanjut, meski skenario ekstrem ala 2008 dinilai tidak akan terulang.

Harga Minyak Bisa Tembus USD 110 Jika Perang AS-Iran Berlanjut

Harga minyak dunia kini berada di persimpangan. Kalau konflik AS-Iran tidak juga mereda, angka USD 110 per barel bukan lagi sekadar proyeksi pesimistis, tapi skenario yang mulai dianggap realistis oleh pemerintah Indonesia.

Berbicara di Brussels Economic Security Forum (BESF) di Belgia pada Jumat (5/6/2026), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pergerakan harga energi sebagai indikator utama dalam mengukur dampak ekonomi global dari ketegangan geopolitik ini. Ia memperkirakan harga minyak berpotensi menembus USD 110 per barel apabila eskalasi terus berlanjut, dengan rata-rata di kisaran USD 100 per barel selama periode konflik.

"Itu tergantung pada harga minyak. Jadi, kita melihat bahwa setiap harga minyak mencapai lebih dari USD 110, maka konsumsi domestik di AS meningkatkan harga. Jadi, selalu ada beberapa langkah yang harus diambil untuk menurunkan harga minyak," kata Airlangga.

Soal skenario ekstrem ala 2007-2008, agaknya tidak akan terulang. Airlangga tegas: minyak tidak akan kembali menyentuh USD 140 per barel seperti puncak krisis waktu itu. "Kita memperkirakan bahwa harga minyak tidak akan kembali ke tahun 2007 atau 2008, di mana harga minyak tertinggi adalah USD 140, tetapi dalam perang ini batasnya sekitar USD 110. Jadi rata-rata kita berada di angka USD 100. Jadi, kita akan melihat bagaimana kelanjutannya," jelasnya. Klaim yang, tentu saja, masih perlu dibuktikan oleh pergerakan harga pekan-pekan mendatang.

Pasar komoditas sendiri sudah gelisah sejak beberapa sesi terakhir. Sentimen risk-off mulai terasa, investor menahan posisi jelang rilis data Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan itu ibarat pedang bermata dua: NFP kuat bisa meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, sementara angka lemah di tengah gejolak geopolitik ini bisa memicu volatilitas dua arah yang tajam.

Emas pun tak ketinggalan mencuri perhatian. Logam kuning ini mendapat dua katalis sekaligus: ketegangan Timur Tengah yang belum juga dingin dan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS. Bagi trader yang sudah lama nyangkut di posisi buy, kombinasi ini jelas bak gayung bersambut.

Buat investor domestik, ada dua hal yang perlu dicermati serius. Lonjakan harga minyak melewati USD 100 akan menekan neraca perdagangan Indonesia sebagai net importer energi. Tekanan itu, pada akhirnya, bermuara pada rupiah. Inflasi domestik yang selama ini cukup terjaga pun bisa kembali terusik kalau harga BBM ikut bergerak mengikuti harga minyak global. Dua variabel. Satu sumber masalah.

Pertanyaannya sederhana: seberapa lama konflik ini akan berlangsung? Itu yang belum ada yang tahu.