JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  MBG Jadi Katup Serapan, Harga Telur dan Ayam Peter...

Bisnis

MBG Jadi Katup Serapan, Harga Telur dan Ayam Peternak Mulai Menanjak

Harga telur sempat amblas ke Rp18.000 per kilogram. Pemerintah kini menggandeng program Makan Bergizi Gratis sebagai instrumen stabilisasi, sambil menggelontorkan Rp678 miliar untuk subsidi jagung pakan.

Jaga Stabilitas Harga, Pemerintah Sepakat Optimalkan Penyera

Harga telur sempat menyentuh Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram di tingkat peternak, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian yang ditetapkan pemerintah. Bukan angka yang bisa diabaikan, mengingat jutaan peternak skala kecil bergantung pada margin yang sudah tipis sejak awal.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menegaskan penurunan harga ini berpotensi mengganggu keberlangsungan usaha peternakan nasional jika dibiarkan. Responnya: libatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai katup penyerap. "Kami sudah koordinasi. MBG agar konsumsi telur dan ayamnya dinaikkan dari satu kali per minggu, kalau bisa tiga kali per minggu," ucap Amran, Kamis (18/6/2026).

Langkah itu agaknya mulai memberi efek, setidaknya di sisi harga ayam broiler. Per 15 Juni 2026, rata-rata harga ayam hidup di tingkat peternak secara nasional tercatat Rp22.107 per kilogram, naik tipis 0,56 persen dari hari sebelumnya di level Rp21.984 per kilogram. Dibanding seminggu sebelumnya pun sudah naik 0,02 persen. Kecil, tapi arahnya sudah benar.

Pemerintah tidak hanya bermain di hilir. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan yang berjalan sejak 9 Mei 2026 dirancang untuk menekan biaya produksi dari sisi hulu. Bapanas mengalokasikan Rp678 miliar untuk program ini sepanjang 2026, dengan total kuota penyaluran 242 ribu ton jagung pakan.

Realisasinya? Sampai 15 Juni, Perum Bulog sudah menyalurkan 42,4 ribu ton, atau sekitar 19,9 persen dari target sementara 213,2 ribu ton. Masih ada sisa pagu 28,8 ribu ton yang sedang diproses bersama Kementerian Pertanian untuk memperluas daftar penerima manfaat. Target program ini mencakup lebih dari 5.000 peternak skala mikro, kecil, dan menengah, dengan populasi unggas 53 juta ekor yang tersebar di 26 provinsi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan betapa meluasnya tekanan ini. Hingga minggu kedua Juni 2026, penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) telur ayam ras tercatat di 198 kabupaten/kota, sementara daging ayam ras ambles di 182 kabupaten/kota. Bukan masalah satu dua daerah, ini fenomena yang menjangkiti hampir separuh wilayah di Indonesia.

Pertanyaannya, berapa lama MBG bisa jadi bantalan? Menaikkan frekuensi konsumsi protein hewani dari satu jadi tiga kali seminggu bisa jadi solusi jangka pendek yang mumpuni, tapi efektivitasnya bergantung pada konsistensi serapan di lapangan dan seberapa cepat tambahan penerima SPHP jagung pakan bisa divalidasi. Kalau data ini bisa dipercaya, sinyal harga broiler sudah mulai bergerak ke arah yang benar. Tapi peternak tahu betul, satu pekan naik bukan berarti masalah selesai.