KAMIS, 22 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Market Lesu, Sucor Sekuritas: Ini Bukan Waktunya A...

Bisnis

Market Lesu, Sucor Sekuritas: Ini Bukan Waktunya All In

Di tengah volatilitas global yang menekan pasar saham, Sucor Sekuritas menekankan bahwa disiplin manajemen risiko jauh lebih krusial ketimbang agresif mengejar cuan di kondisi downtrend.

Pasar saham sedang tidak baik-baik saja. Tekanan dari tensi geopolitik sampai arah suku bunga global terus membayangi IHSG beberapa pekan terakhir. Tapi bagi Sucor Sekuritas, situasi ini justru membuka percakapan yang jarang terjadi saat fase bullish: soal disiplin.

Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya blak-blakan. Kalau market sedang downtrend, pendekatan paling bijak bukan menambah eksposur. Sebaliknya, kurangi posisi, lebih selektif, dan jangan sekali-sekali all in.

"Masuk dulu 10%, kalau memang bagus kita bisa tambah lagi di atas kalau dia uptrend. Itu jauh lebih bijak," ujar Hendry dalam acara Premium Market Talk Bisnis Indonesia, Kamis (9/4/2026).

Logikanya sederhana. Investor yang menjaga likuiditas punya fleksibilitas lebih besar untuk menangkap peluang saat kondisi berbalik. Mereka yang sudah kadung all in di harga atas? Cuma bisa menunggu sambil nyangkut.

Kesalahan klasik yang disorot Hendry adalah overconfidence setelah fase bullish. Portofolio hijau terus, investor merasa strategi mereka sempurna, lalu abai terhadap manajemen risiko. Ujiannya baru terasa ketika market berbalik arah. Persis seperti sekarang.

"Justru trader hebat itu muncul bukan waktu market bullish, waktu market lagi jelek kayak sekarang. Market jelek kayak sekarang ini akan menghasilkan orang yang bertahan di market," katanya.

Soal cut loss, Hendry menyebutnya sebagai kunci keberlangsungan portofolio. Kerugian kecil yang dibiarkan berlarut bakal jauh lebih sulit dipulihkan. Secara matematis, saham yang amblas 50% butuh naik 100% hanya untuk balik ke harga awal. Angka yang sering luput dari perhitungan investor ritel.

Rasio risk to reward juga jadi perhatian. Sucor merekomendasikan minimal 1:2, artinya potensi profit harus dua kali lipat dari risiko yang diambil per transaksi. Patokan sederhana, tapi agaknya masih banyak yang mengabaikannya saat euforia bicara.

CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya melihat dari sudut yang sedikit berbeda. Volatilitas, menurutnya, bukan semata ancaman. Ada peluang di sana, asalkan investor tidak sekadar reaktif terhadap pergerakan harga.

"Di tengah market yang volatil, investor tidak cukup hanya reaktif terhadap pergerakan harga," tulis Bernadus dalam keterangan resmi, Minggu (12/4/2026). Baginya, kualitas pengambilan keputusan, bukan kecepatan transaksi, yang jadi pembeda.

Satu hal lagi dari Hendry: jangan terlalu bergantung pada berita. Bagi sebagian pelaku pasar, kebiasaan menunggu sentimen positif sebelum masuk justru bikin mereka selalu terlambat. Konfirmasi mestinya datang dari pergerakan harga dan volume transaksi, bukan dari headline.

"Kalau kita nunggu berita, kapan nunggu bagusnya? Akhirnya kita ketinggalan momen. Kalau sahamnya lagi uptrend, masuk, tidak perlu menunggu berita bagus muncul dulu," tegasnya.

Pasar sedang dihajar ketidakpastian. Entah kebetulan atau tidak, pelajaran paling mahal justru yang tidak ada di buku teks mana pun. Bukan soal saham apa yang dibeli, tapi seberapa siap investor menanggung risiko yang menyertainya. Pertanyaannya, berapa lama disiplin ini bisa bertahan kalau market tiba-tiba rebound?