Batu bara masih berkuasa. Per pertengahan Juli 2026, Forbes Real-Time Billionaires menempatkan Low Tuck Kwong sebagai orang paling tajir di Tanah Air dengan kekayaan bersih sekitar 15,9 miliar dollar AS atau setara Rp 287,2 triliun, sekaligus menempati peringkat 181 dunia.
Pendiri PT Bayan Resources Tbk itu bertahan di posisi pertama meski peta persaingan papan atas terus bergeser. Di belakangnya, Prajogo Pangestu kini naik ke peringkat dua setelah tiga minggu terjebak di posisi ketiga, menyalip Robert Budi Hartono. Kekayaan pendiri Barito Group ini menjangkau petrokimia, energi, hingga energi terbarukan, dan Forbes mencatat kenaikan harian terbesar di antara semua miliarder Indonesia ada pada namanya. Budi Hartono, dengan kekayaan 15,3 miliar dollar AS dari BCA dan Djarum Group, bergeser ke posisi tiga.
Anthoni Salim bertengger di posisi keempat dengan kekayaan 10,3 miliar dollar AS, sekitar Rp 186,35 triliun. Salim Group bukan satu perusahaan, melainkan gurita yang menjangkau pangan, ritel, telekomunikasi, sampai infrastruktur. Sri Prakash Lohia dari Indorama Corporation dan Tahir dari Mayapada Group kompak di kisaran 8,4 miliar dollar AS, masing-masing di posisi lima dan enam.
Nah, di sinilah daftar ini mulai terasa berbeda. Peringkat tujuh dan delapan justru datang dari sektor yang sama: bisnis pusat data. Otto Toto Sugiri, co-founder PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang kerap dijuluki "Bill Gates Indonesia," mencatat kekayaan 8,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 146,54 triliun. Tepat satu tingkat di bawahnya, Marina Budiman membukukan 5,7 miliar dollar AS, sekitar Rp 102,9 triliun. Satu-satunya perempuan dalam daftar 10 besar ini.
Perjalanan keduanya ke puncak bukan jalan pintas. Marina dan Otto pertama kali bertemu di Bank Bali pada 1985, lalu berkolaborasi lagi di perusahaan teknologi informasi Sigma Cipta Caraka sejak 1989. Puncaknya, bersama-sama mereka mendirikan Indonet pada 1994, layanan internet pertama di Indonesia. Kemudian, bersama Han Arming Hanafia, keduanya membangun DCII pada 2011, yang kini berkembang menjadi pusat data berstandar Tier-IV dengan fasilitas di Cibitung, Karawang, dan Jakarta. Saham DCII melantai di bursa pada 2021 dengan harga penawaran Rp 420 per lembar. Dari sana, nilainya melejit jauh. Marina sendiri tercatat menggenggam 22,51 persen saham DCII, terbesar kedua setelah Otto.
Dua nama penutup daftar: Lim Hariyanto Wijaya Sarwono di posisi sembilan dengan 4,2 miliar dollar AS dari bisnis sawit dan nikel, serta Sukanto Tanoto di posisi sepuluh dengan 4 miliar dollar AS lewat Royal Golden Eagle Group yang menjangkau pulp, kertas, energi, dan sawit.
Angka-angka ini bergerak setiap saat, mengikuti fluktuasi harga saham dan aset secara real-time. Peringkat hari ini belum tentu sama besok. Tapi satu hal yang agaknya tidak akan cepat berubah: dari sepuluh nama ini, dua di antaranya membuktikan bahwa infrastruktur digital sudah selevel dengan batu bara dan petrokimia sebagai mesin pencetak konglomerat baru Indonesia.