Rp1,5 triliun laba bersih dalam tiga bulan pertama 2026, naik 1.184% dibanding periode yang sama tahun lalu. Bagi PT Timah Tbk (TINS), angka ini bukan sekadar pemulihan, eh, bukan: ini lompatan yang bahkan melampaui apa yang diperkirakan para analis sekalipun.
Pendapatan perseroan melejit 161% menjadi Rp5,47 triliun, ditopang dua mesin utama: volume penjualan timah olahan naik 113% menjadi 6.000 ton, dan harga jual rata-rata terkerek 52% ke US$49.200 per ton. Kombinasi keduanya menghasilkan ekspansi margin yang, jujur saja, di luar ekspektasi banyak pihak. Margin laba kotor menyentuh 38,6%, EBITDA 37,2%, laba bersih 27,5%.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat capaian kuartal pertama ini telah menyerap sekitar 44,6% dari proyeksi laba bersih setahun penuh yang sudah direvisi. "Hasil kuartal I-2026 mengonfirmasi tesis kami mengenai titik balik pertumbuhan laba. Kinerja kuat ini ditopang oleh harga jual rata-rata yang tinggi serta ekspansi margin," tulis analis BRI Danareksa, Andhika Audrey, dalam risetnya.
Merespons kinerja itu, BRI Danareksa mengerek proyeksi laba bersih TINS sepanjang 2026 sebesar 13,4% menjadi Rp3,4 triliun, dengan asumsi harga jual yang dinaikkan dari US$40.000 menjadi US$50.000 per ton. Target harga saham direvisi ke Rp4.500, turun dari Rp4.800 sebelumnya, namun tetap mencerminkan potensi kenaikan 39,8% dari harga penutupan Rp3.210 pada Jumat (29/5/2026).
Tren positif ini bukan cerita baru. Sepanjang 2025, TINS membukukan laba bersih Rp1,31 triliun sekaligus menyetorkan pajak dan PNBP senilai Rp1,624 triliun ke kas negara, melesat 106,9% dibanding realisasi 2024 sebesar Rp855 miliar. Sekretaris Perusahaan Ruddy Nursalam menyebut kontribusi itu sebagai wujud komitmen perusahaan dalam mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab. Kuartal I-2026 agaknya mengakselerasi momentum itu jauh lebih cepat dari yang diantisipasi.
Tapi ada satu variabel yang bisa membalik narasi ini.
Royalti. Usulan kenaikan tarif dari 10% menjadi 20% masih menggantung tanpa kepastian. Dalam skenario base case, BRI Danareksa belum memasukkan variabel ini ke proyeksi. Kalau kebijakan itu diterapkan, laba bersih 2026 berpotensi ambles 41% menjadi sekitar Rp1,98 triliun, bahkan dalam skenario sensitivitas terburuk bisa jatuh ke kisaran Rp1,46 triliun. "Royalti yang lebih tinggi dapat menggerus margin kas secara material dan membatasi potensi rerating saham TINS dalam jangka pendek," tegas Andhika.
Ada risiko lain yang, entah kebetulan atau tidak, waktunya berhimpit: transisi RKAB yang relaksasinya berakhir Maret 2026 berpotensi mengganggu pengiriman di April dan kuartal-kuartal berikutnya. Inilah alasan BRI Danareksa memilih pendekatan konservatif dalam asumsi volume, mempertahankan proyeksi penjualan tahunan di 25.000 ton, jauh dari ekstrapolasi sederhana atas realisasi kuartal pertama. Pertanyaannya, berapa lama manajemen bisa menjaga laju ini kalau dua tekanan itu datang bersamaan?
Untuk 2027, proyeksi laba bersih dipangkas 8,7% menjadi Rp3,5 triliun, murni karena ketidakpastian volume dan regulasi. Angka yang tidak main-main untuk emiten yang baru saja merasakan manisnya pemulihan.
Rekomendasi buy tetap dipertahankan, dengan valuasi 10 kali P/E 2026, diskon dari rata-rata historis 11 kali sebagai kompensasi atas ketidakpastian royalti. Pasar kini dihadapkan pada pilihan klasik: apakah kinerja operasional yang gemilang cukup untuk mengimbangi risiko kebijakan yang masih kabur? Kalau regulasi royalti itu benar-benar disahkan, cerita pemulihan TINS bisa berubah jauh lebih cepat dari yang siapa pun inginkan.