JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Laba PSAB Meroket 803%, tapi Ada Write-Off Jumbo d...

Bisnis

Laba PSAB Meroket 803%, tapi Ada Write-Off Jumbo di Baliknya

PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) membukukan laba bersih USD177,89 juta di semester I-2026, melonjak lebih dari 800% secara tahunan. Tapi angka fantastis ini perlu dibaca dengan hati-hati.

Tambang Bakan di Bolaang Mongondow Sulawesi Utara yang dimiliki dan dikelola oleh J Resources. Foto: J Resources

Laba bersih PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) semester I-2026 memang bikin mata terbelalak: USD177,89 juta, atau setara sekitar Rp3,15 triliun, naik lebih dari 800% dibanding USD19,69 juta di periode yang sama tahun lalu. Bukan angka kecil, dan pasar sudah merespons jauh sebelum laporan ini resmi keluar.

Saham PSAB dalam sebulan terakhir melesat 39% dari Rp428 ke Rp595, sejalan dengan harga emas global yang juga menguat hampir 10% dalam rentang waktu serupa. Tapi pada penutupan 31 Agustus 2026, saham ini terkoreksi 3,25% alias turun 20 poin. Agaknya pelaku pasar mulai membaca laporan keuangannya lebih cermat.

Sebab di balik lonjakan laba yang tampak impresif itu, ada satu item yang mengambil porsi dominan: keuntungan divestasi USD298,59 juta dari pelepasan PT Arafura Surya Alam (ASA) kepada PT Danusa Tambang Nusantara (DTN), entitas anak PT United Tractors Tbk (UNTR) dari Grup Astra. Keuntungan satu kali ini bersifat non-recurring. Tanpa pos ini, gambaran kinerja PSAB terasa jauh berbeda.

Penjualan emas perseroan tumbuh 14,5% secara tahunan menjadi USD160,63 juta hingga Juni 2026, dengan dominasi pasar domestik yang mencapai 91% dari total penjualan. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) jadi pembeli terbesar dengan kontribusi USD86,33 juta, disusul PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) sebesar USD59,53 juta. Beban pokok penjualan ambles 63,78% secara tahunan menjadi hanya USD18,94 juta, membuat margin laba kotor meledak dari 62,72% menjadi 88,20%. Dari sisi operasional murni, ini hasil yang solid.

Tapi ada sisi lain yang perlu dibaca dengan teliti. PSAB mencatatkan write-off properti pertambangan di area Tambang Penjom, Malaysia, senilai USD102,92 juta pada semester ini. Tambang yang dikelola anak usaha J Resources Gold (UK) Ltd (JRGL) itu punya luas 1.223 hektare dengan proven reserves hanya 5.000 ounces, dan sebagian izin tambangnya dijadwalkan berakhir antara 2027 hingga 2030. Penghapusan ini ikut mendongkrak pos amortisasi dan penghapusan menjadi USD105,57 juta dari sebelumnya hanya USD7,54 juta, serta mendorong kerugian penurunan nilai aset tetap melonjak ke USD59,57 juta.

Ada anomali yang menarik perhatian kalau mau digali lebih dalam. Laba bersih semester I-2026 sebesar USD177,89 juta itu justru lebih rendah dari laba bersih kuartal I-2026 saja yang mencapai USD265,94 juta. Beda keduanya: USD88,05 juta. Secara implisit, PSAB membukukan kerugian sebesar itu di kuartal II-2026. Bisa jadi imbas dari penghapusan aset Penjom yang diakui pada periode tersebut, tapi angkanya tidak main-main.

Usai melepas Proyek Doup dan menghapus Penjom, portofolio aset PSAB kini mengecil drastis. Perseroan praktis hanya bergantung pada Tambang Bakan di Sulawesi Utara, dikelola PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), dengan area 38.150 ha dan proven reserves 114.221 ounces serta kontrak karya hingga 2034. Total produksi emas di semester I-2026 tercatat 47.324 ounces, turun tipis 1,55% secara tahunan.

Total aset menyusut dari USD821,56 juta di akhir 2025 menjadi USD636,86 juta. Total liabilitas ikut terpangkas dari USD367,04 juta menjadi USD201,35 juta. Kas dan setara kas akhir periode tercatat USD17,06 juta, turun dari USD39,44 juta. Neraca lebih ramping, kalau tidak mau dibilang lebih tipis.

Laba 803% itu nyata secara akuntansi. Pertanyaannya: seberapa berkelanjutan?