JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Laba Bersih Agrinas Rp27,9 Miliar Dipertanyakan, K...

Bisnis

Laba Bersih Agrinas Rp27,9 Miliar Dipertanyakan, KPK Diminta Turun Tangan

Petani sawit dan asosiasi industri mempertanyakan laba bersih PT Agrinas Palma Nusantara yang hanya Rp27,9 miliar dari pengelolaan 1,7 juta hektare kebun sawit, sementara Komisi VI DPR mendesak penyelesaian konflik agraria secara dialogis.

Angka Rp27,9 miliar itu yang membuat banyak orang geleng-geleng kepala.

Laba bersih PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) untuk tahun buku 2025 terasa janggal di telinga para petani sawit, apalagi bila disandingkan dengan fakta bahwa perusahaan pelat merah ini mengelola perkebunan sawit sekitar 1,7 juta hektare, lengkap dengan 23 unit pabrik kelapa sawit. Bukan pemain kecil, dengan kata lain.

Kejanggalan itu makin tebal setelah terungkap bahwa Direktur Utama Agrinas Mohammad Abdul Ghani sempat menyebut laba bersih cuma Rp2,7 miliar dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR, sebelum diralat jadi Rp27 miliar sehari kemudian. Ralat seperti itu, di forum sepenting RDP, agaknya bukan sesuatu yang mudah ditelan begitu saja.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Sawitku Masa Depanku (Samade) Abdul Aziz langsung bongkar hitungannya. Dari 1,7 juta hektare total lahan yang dikelola Agrinas, sekitar 730 ribu hektare sudah ditanami sawit. Dengan asumsi produktivitas paling konservatif sekalipun, tanpa pupuk, tanpa perawatan, semata dipanen, potensi pendapatan sudah bisa menembus sekitar Rp730 miliar per bulan. Kalikan enam bulan masa pengelolaan di 2025, angkanya menyentuh Rp4,38 triliun, dan itu belum menghitung pendapatan dari operasional 23 PKS.

"Itu sudah hasil sangat rendah, enggak dipupuk, enggak diapa-apain, cuma dipanen. Ini saja sudah Rp730 miliar sebulan. Bila dikali enam bulan, hasilnya sudah Rp4,38 triliun. Itu baru dari hasil sawit. Lalu hasil dari mengelola 23 unit pabrik kelapa sawit ke mana?" ujar Aziz di Pekanbaru, Jumat.

Petani sawit asal Kabupaten Siak, Katimin, punya kalkulasinya sendiri. Satu hektare kebun sawit yang tidak dirawat sekalipun, kata dia dari pengalaman di lapangan, masih sanggup menghasilkan sekitar 1,5 ton tandan buah segar per bulan. Harga TBS sekitar Rp2.000 per kilogram, artinya pendapatan kotor bisa mencapai Rp3 juta per hektare per bulan. Proyeksikan ke 730 ribu hektare selama enam bulan, angkanya mendekati Rp30 triliun. "Makanya heran juga kalau laba Agrinas Rp27 miliar," kata Katimin, kalimat pendek yang sebetulnya menyimpan tanda tanya besar.

Agrinas sebelumnya melaporkan membukukan surplus Rp2,86 triliun dengan laba bersih Rp27,9 miliar. Jurang antara angka surplus dan laba bersih itu sendiri belum mendapat penjelasan yang memuaskan dari manajemen. Bak cermin retak: gambarnya ada, tapi tidak utuh.

Aziz tidak berhenti pada kritik angka. Ia secara eksplisit meminta KPK turun tangan melakukan audit investigatif terhadap pengelolaan kebun sawit hasil sitaan Satgas Penertiban Kawasan Hutan, yang selama hampir dua tahun ini berada di bawah kendali Agrinas. "Kita meminta KPK untuk melakukan pemeriksaan intensif dan melakukan audit investigatif terhadap Agrinas yang selama hampir dua tahun ini mengelola kebun kelapa sawit hasil sitaan Satgas PKH," katanya.

Komisi VI DPR turut menyuarakan desakan agar Agrinas segera menuntaskan konflik agraria yang menyertai pengelolaan lahan-lahan itu secara dialogis dan berkeadilan. Lahan 1,7 juta hektare yang sebagian besar adalah hasil penertiban kawasan hutan memang tidak datang tanpa sengketa. Tekanan dari parlemen menunjukkan persoalannya jauh melampaui angka di laporan keuangan.

Apakah Agrinas punya jawaban yang lebih meyakinkan dari sekadar meralat angka sehari setelah RDP? Pasar, petani, dan setidaknya satu lembaga antirasuah kini menunggu.