SABTU, 19 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Kubah Runit Retak: 120.000 Ton Limbah Nuklir AS Me...

Internasional

Kubah Runit Retak: 120.000 Ton Limbah Nuklir AS Menghantui Pasifik

Kubah Runit di Kepulauan Marshall, penampung lebih dari 120.000 ton material radioaktif sisa uji coba nuklir Amerika Serikat, dilaporkan mengalami keretakan serius. Kenaikan permukaan laut dan badai yang makin intens membuat para ilmuwan khawatir bencana kontaminasi tinggal menunggu waktu.

Enam puluh delapan tahun lalu, militer Amerika Serikat meledakkan bom nuklir berkekuatan 18 kiloton di Pulau Runit, Kepulauan Marshall. Kawah raksasa yang tersisa lalu mereka isi dengan puing-puing terkontaminasi, ditutup dengan kubah beton. Solusi sementara, kata mereka waktu itu.

Kini kubah itu retak.

Struktur beton berdiameter 115 meter yang dikenal sebagai Kubah Runit, dibangun antara 1977 hingga 1980, kini menunjukkan kerusakan fisik yang kasat mata. Di dalamnya tersimpan lebih dari 120.000 ton material radioaktif, termasuk plutonium-239, komponen senjata nuklir dengan masa bahaya mencapai 24.000 tahun. Bukan angka yang bisa dikesampingkan.

Ivana Nikolic-Hughes, ahli kimia dari Columbia University, menyaksikan langsung kondisi itu saat penelitian lapangan pada 2018. Retakan di lapisan beton terlihat jelas. Yang lebih mengkhawatirkan: sampel tanah di luar area kubah menunjukkan kadar radionuklida yang jauh di atas normal. "Mengingat permukaan laut terus naik dan ada indikasi badai makin menguat, kami khawatir keutuhan kubah bisa terancam," katanya.

Problema dasarnya, secara harfiah, ada di bagian dasar kubah itu sendiri. Konstruksi awal tidak menyertakan lapisan pelindung kedap air di bawah kawah, sehingga air tanah sudah lama merembes masuk ke dalam timbunan limbah. Seiring kenaikan permukaan laut yang terus menggerus garis pantai Pulau Runit, beban pada struktur ini kian berat.

Ken Buesseler, pakar radioaktivitas laut dari Woods Hole Oceanographic Institute, mencoba menjaga nada tetap dingin. Tingkat kebocoran saat ini, tegasnya, masih kecil. "Selama plutonium tetap berada di bawah kubah, ia takkan menjadi sumber radiasi baru yang besar bagi Samudra Pasifik," kata Buesseler. Tapi syaratnya tak ringan: pemantauan reguler mutlak diperlukan, terutama seiring perubahan pola badai yang makin tak bisa dibaca.

Pacific Northwest National Laboratory, dalam investigasi 2024, mempertegas kekhawatiran itu. Gelombang badai dan kenaikan air laut, menurut temuan tersebut, adalah faktor terbesar yang bisa mempercepat penyebaran radionuklida ke seluruh wilayah atol. Entah kebetulan atau tidak, laporan ini terbit di tahun yang sama saat frekuensi badai Pasifik mencatat rekor baru.

Tiga puluh dua kilometer. Sejauh itulah jarak Pulau Runit dari pemukiman warga yang sehari-hari mengandalkan laguna sekitar sebagai sumber penghidupan. Kontaminasi yang menyebar bukan sekadar soal angka radiasi di atas kertas, tapi menyangkut keselamatan komunitas yang sudah terlalu lama menanggung warisan uji coba nuklir AS.

Uji coba 'Cactus' di 1958 bukan satu-satunya. Beberapa ledakan lain di kepulauan ini punya kekuatan hingga 1.000 kali lipat bom Hiroshima dan Nagasaki. Kubah Runit sejak awal dirancang sebagai penampungan sementara untuk semua sisa kehancuran itu. Masalahnya, "sementara" sudah berlangsung hampir setengah abad.

Nikolic-Hughes bersama peneliti Hart Rapaport telah lama mendesak Washington mengambil tanggung jawab penuh atas pembersihan menyeluruh. Desakan yang, sejauh ini, belum melahirkan komitmen konkret apa pun. Sementara retakan di Runit terus melebar, dan laut terus naik.