Empat hari, 20-23 Agustus 2026. Lantai Jakarta International Convention Center di Senayan berubah jadi semacam cermin retak: ramai, bersemangat, penuh potensi, dan masih menyimpan banyak pekerjaan rumah yang belum kelar.
Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 mempertemukan 560 UMKM secara luring dan lebih dari 1.300 lainnya secara daring, semuanya binaan Bank Indonesia dari penjuru kepulauan. Salah satunya Katarina Beukliu, yang hadir meski di lehernya masih tampak bekas jahitan operasi, membawa kain tenun Ayotupas dengan motif timbul khas Timor Tengah Selatan. "Maaf kalau suara saya kecil, karena baru saja menjalani operasi," katanya kepada pengunjung yang berhenti di booth-nya.
Tak jauh dari sana, Sholihin Prakoso dari Mancafe sibuk bernegosiasi dengan calon pembeli asal Korea Selatan, memperluas ekspor kopi yang sudah menjangkau Kanada, Amerika Serikat, dan Belgia. "Saya berharap ke depan perusahaan saya bisa lebih fokus pada ekspor," ujar Sholihin.
Gelaran tahun ini bukan sekadar pameran produk. KKI 2026 melibatkan sinergi BI dengan 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis, dengan tema "Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing." Aceh dipilih sebagai wilayah tematik, simbol kebangkitan daerah yang pernah dihajar bencana.
Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti, dalam pembukaan, menegaskan posisi UMKM sebagai pilar ekonomi nasional. Dari sekitar 64 juta pelaku usaha sejenis, sektor ini menyerap 97 persen tenaga kerja dan menyumbang lebih dari 60 persen PDB. "Bangkit adalah semangat pemulihan UMKM yang menghadapi tantangan ekonomi maupun bencana alam. Tangguh diwujudkan melalui penguatan struktur usaha dan akses pembiayaan. Berdaya saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar domestik maupun ekspor," kata Destry.
Tapi satu angka yang ia sebut agaknya lebih penting dari semua pidato. Pertumbuhan kredit UMKM baru sekitar 1,62 persen. Jauh. Kalau data ini bisa jadi patokan, ada jurang lebar antara kontribusi sektor ini terhadap PDB dan pembiayaan yang benar-benar mengalir ke sana.
Di Jawa Timur, BI membina 67 UMKM dari sektor unggulan, mulai wastra, kriya, fesyen, hingga kopi dan makanan-minuman olahan. Kepala Perwakilan BI Jatim Ibrahim menyebut provinsi ini sebagai salah satu basis UMKM terbesar di Indonesia: 2,57 juta unit usaha, menyerap 96,3 persen tenaga kerja, berkontribusi lebih dari 57 persen terhadap PDRB. Dari 67 UMKM binaan itu, 17 hadir langsung di KKI 2026, sementara 55 lainnya berpartisipasi secara online.
Kantor Perwakilan BI Sulawesi Tengah pun aktif. Lebih dari 100 UMKM binaan terus digodok, termasuk Febry Ferry Fabry, pelaku usaha fesyen asal Palu yang sudah menembus panggung fashion show internasional. Kepala KPwBI Sulteng Muhammad Irfan Sukarna menyebut digitalisasi sebagai fokus utama pembinaan. Hasilnya terlihat di data: pengguna QRIS di Sulteng hingga Juni 2026 mencapai 409,32 ribu, tumbuh 17,83 persen secara tahunan. Volume transaksinya? Meledak 236 persen yoy menjadi 47,53 juta transaksi. Merchant QRIS kini menyentuh 346 ribu.
Dari Kutai Barat, Kalimantan Timur, ada Novarita, pengrajin tas sulam tampar berbasis kain Ulap Doyo dari serat tanaman doyo, binaan KPwBI Kalimantan Timur. Baginya, KKI bukan sekadar ajang pamer. "Melalui produk ini, saya ingin turut menjaga alam dengan pengelolaan limbah yang baik," ujarnya.
Kisah-kisah ini inspiratif, tidak perlu diragukan. Tapi pertanyaan yang belum terjawab tuntas tetap menggantung: kalau UMKM menyumbang lebih dari 60 persen PDB, kenapa kredit yang mengalir ke sana masih merangkak di bawah 2 persen? Bukan soal kurang acara. Bukan soal kurang pameran.