RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Kopdes Merah Putih vs Ritel Modern: Ancaman atau A...

Bisnis

Kopdes Merah Putih vs Ritel Modern: Ancaman atau Angin Lalu?

AMRT dan RANC kompak menyatakan kehadiran 83.000-an Koperasi Desa Merah Putih belum mengguncang bisnis mereka, tapi pasar tetap mencermati seberapa jauh program ini bisa menggerus pangsa ritel modern.

Hadapi puluhan ribu Kopdes Merah Putih, pemilik Alfamart buka suara

Dua emiten ritel dari segmen berbeda, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), kompak memberi sinyal serupa kepada Bursa Efek Indonesia: kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih belum menggerus bisnis mereka. Paling tidak, itulah yang mereka klaim.

AMRT menyampaikan keterbukaan informasi ke BEI pada 5 Juni, menegaskan tidak ada satu pun gerai Alfamart atau Alfamidi yang tutup akibat program Kopdes Merah Putih. Corporate Secretary AMRT Tomin Widian menyebut setiap pelaku usaha memiliki segmentasi berbeda sehingga bisa saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Klaim yang masih perlu dibuktikan waktu, tentu, tapi setidaknya manajemen memilih tidak panik di depan publik.

RANC, pengelola jaringan ritel premium Ranch Market dan Farmers Market, menyampaikan respons serupa tiga hari lebih awal. Perseroan menilai Kopdes Merah Putih dan gerai-gerai premiumnya membidik konsumen yang jauh berbeda, sehingga keduanya bisa berjalan berdampingan. Area pedesaan bukan fokus ekspansi RANC, kata manajemen, jadi keberadaan koperasi desa itu dianggap tidak menyentuh proyeksi pertumbuhan jangka menengah.

Angka 83.376. Sebanyak itulah koperasi yang telah terbentuk secara legal berdasarkan data Sistem Informasi Manajemen Kopdes Merah Putih, cukup untuk membuat sebagian pelaku pasar mengernyitkan dahi. Tapi kalau dicermati lebih jauh, hanya 11.824 unit yang benar-benar sudah punya gerai fisik. Sebanyak 23.378 unit masih dalam proses membangun, serta 38.029 unit bahkan belum menyelesaikan pengajuan lahan. Di lapangan, skala aktual program ini jauh dari kesan yang ditimbulkan angka puluhan ribu itu.

AMRT tidak terlihat mau berdiam diri menunggu. Tahun ini perseroan menganggarkan belanja modal sekitar Rp500 miliar dari kas internal untuk mendanai target pembukaan 800 gerai baru: 500 dikelola sendiri, 300 lewat jalur waralaba. Wilayah yang belum terlayani secara optimal jadi incaran utama, kata Tomin. Agaknya manajemen justru melihat celah di sana, bukan ancaman.

Cerita RANC sedikit berbeda. Strategi premium memang tidak banyak bersinggungan dengan koperasi desa, dan itu terdengar aman di atas kertas. Tapi saham RANC ditutup amblas 3,85% ke Rp500 per saham pada 3 Juni, dengan kapitalisasi pasar di kisaran Rp782,24 miliar. Posisinya kini terpaut jauh dari level tertinggi 52 minggu di Rp1.240. Bukan semata karena Kopdes Merah Putih, tentu, tapi cermin retak dari tekanan yang datang dari banyak penjuru sekaligus.

Narasi "tidak berdampak material" yang serempak dilontarkan dua emiten ini bisa dibaca dua cara. Pertama, memang benar tidak ada dampak berarti karena program Kopdes Merah Putih masih jauh dari kata matang secara operasional. Kedua, ini respons standar manajemen untuk menenangkan investor, setidaknya itu klaim manajemen, bukan konfirmasi lapangan. Entah kebetulan atau tidak, keduanya memilih diksi yang nyaris identik dalam keterbukaan informasi masing-masing.

Pertanyaannya, berapa lama narasi ini bertahan? Kalau dari 83 ribu koperasi itu akhirnya separuhnya beroperasi penuh dengan dukungan anggaran negara, ceritanya bisa lain.