Jumat lalu, Jerome Powell resmi turun tahta. Kevin Warsh, 56 tahun, kini memegang kendali The Federal Reserve setelah Senat AS meloloskan nominasinya hampir sepenuhnya berdasarkan garis partai. Satu-satunya senator Demokrat yang menyeberang: John Fetterman dari Pennsylvania.
Warsh mengambil alih di momen yang agaknya paling rumit dalam setengah abad terakhir. Inflasi AS bertahan di 3,8% secara tahunan, harga energi melonjak 17,9% dalam setahun, dan harga bensin rata-rata di pompa kini US$4,56 per galon, naik dari US$2,98 pada akhir Februari lalu. Bukan angka yang nyaman untuk memulai jabatan.
Tekanan dari Gedung Putih sudah terpasang sejak awal. Trump, yang pada Desember 2025 terang-terangan menyatakan hanya akan menunjuk bos The Fed yang pro-penurunan suku bunga, memberikan pesan yang terasa kontradiktif saat pelantikan: "Saya ingin Kevin benar-benar independen dan melakukan pekerjaan dengan baik. Jangan melihat saya dan jangan melihat siapa pun. Jalankan tugas Anda sendiri," kata Trump, dikutip dari CNBC International. Pasar mencerna ucapan itu dengan hati-hati.
Warsh bukan orang baru di panggung ini. Dia pernah duduk sebagai Gubernur The Fed pada 2006-2011, melewati guncangan krisis keuangan global 2008, dan dikenal sebagai penghubung utama antara Ben Bernanke dan Wall Street kala itu. Ekonom di Hoover Institution, pengajar di Stanford Graduate School of Business. Rekam jejak yang mumpuni, setidaknya di atas kertas.
Soal independensi, Warsh pernah menulis pidato berjudul "An Ode to Independence". Dalam sidang konfirmasi, dia menolak keras tudingan Senator Elizabeth Warren yang menyebutnya "boneka" Trump. Tapi pasar punya memori panjang. Warsh sempat menolak pemangkasan suku bunga saat Biden masih menjabat, lalu sikapnya melunak setelah Trump kembali ke Gedung Putih. Inkonsistensi semacam itu jadi amunisi para skeptis. Bak pedang bermata dua: reputasi independennya adalah asetnya, sekaligus titik paling rentan yang akan terus diuji.
Rapat kebijakan perdana di bawah Warsh dijadwalkan 16-17 Juni. Analis JPMorgan Chase memperkirakan suku bunga kemungkinan tetap bertahan setidaknya hingga pertengahan 2027, bahkan masih ada ruang untuk kenaikan. Alat FedWatch milik CME Group menunjukkan probabilitas 97% bahwa suku bunga tidak akan berubah pada rapat berikutnya. Risalah rapat April yang baru dirilis menyebut inflasi berpotensi lebih persisten akibat konflik Timur Tengah dan tekanan harga di sejumlah sektor. Angka 97%. Hampir bulat.
Setelah dilantik, Warsh mengaku "tidak naif" terhadap tantangan yang ada, sembari meyakinkan bahwa inflasi bisa dikendalikan tanpa mengorbankan pertumbuhan. Klaim yang masih perlu dibuktikan, setidaknya itu kata manajemen The Fed versi pertama era Warsh.
Bagi Indonesia, ini bukan berita dari jauh. Jika Warsh mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga, tekanan terhadap rupiah bisa kembali memanas karena dana investor berpotensi bergeser ke aset AS yang dinilai lebih aman. Biaya utang pemerintah dan korporasi domestik pun ikut merangkak. IHSG, khususnya saham teknologi dan growth stock, rentan terhadap sentimen hawkish The Fed. Skenario paling berat: Bank Indonesia terpaksa ikut menaikkan bunga acuan, yang ujungnya menekan permintaan kredit dalam negeri.
Di pasar kripto, reaksi awal tidak menggembirakan. Bitcoin terkoreksi sekitar 2,4% dan Ethereum amblas 3,6% sesaat setelah pelantikan, disertai penurunan volume perdagangan yang mencerminkan selera risiko yang sedang surut. Warsh sendiri diketahui berinvestasi di aset kripto, fakta yang menarik perhatian komunitas kripto global, meski belum jelas bagaimana itu akan mempengaruhi sikap regulatorinya ke depan.
Era Powell yang relatif bisa diprediksi sudah berakhir. Warsh membawa kombinasi latar belakang Wall Street, jaringan elite bisnis AS, dan hubungan personal dengan Trump yang cukup dalam, termasuk koneksi melalui Ronald Lauder, ayah mertuanya yang merupakan teman sekelas Trump era 1960-an sekaligus penyumbang dana kampanye 2016. Pertanyaannya, apakah kombinasi itu akan membuat Warsh benar-benar independen, atau justru menjadi variabel baru dalam ketidakpastian yang sudah cukup padat ini? Pasar, dan Jakarta, akan menemukan jawabannya mulai 16 Juni.