KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Kelapa Sawit Regeneratif: Ketika Monokultur Mulai...

Bisnis

Kelapa Sawit Regeneratif: Ketika Monokultur Mulai Ditinggalkan

SNV Impact Forum 2026 jadi panggung kolaborasi industri dan petani swadaya untuk mendorong pertanian regeneratif di perkebunan kelapa sawit Indonesia, dari Sumatera hingga Papua.

Regenerative Agriculture: A Sustainable Farming Model for Smallholders - Musim Mas

Perkebunan kelapa sawit Indonesia selama ini identik dengan pola monokultur yang menghampar dari ujung Sumatera sampai Papua. Model ini terbukti menguntungkan secara ekonomi, tapi tekanan dari pasar global dan tuntutan keberlanjutan memaksa industri berpikir ulang.

SNV Impact Forum 2026 yang digelar Kamis (16/7/2026) di Jakarta menjadi arena diskusi serius soal transisi itu. Satu agenda, satu fokus: mendorong perkebunan kelapa sawit beralih ke model agrikultur regeneratif, pendekatan yang tidak sekadar mempertahankan tanah, tapi aktif memulihkannya.

Dani Rahardian, Senior Advisor Palm Oil SNV, mengakui tantangannya tidak sederhana. Ada jurang yang cukup dalam antara mengembangkan pertanian regeneratif di lahan perusahaan besar dibanding di kebun milik petani swadaya. Lahan berskala besar memang lebih mudah dikondisikan, tapi skala petani kecil punya dinamika sendiri. "SNV akan mencoba melakukan scale up guna mendorong pembangunan agrikultur regeneratif ini menjadi lebih berkembang di masa depan," ujar Dani di hadapan peserta forum.

Kata "scale up" itu yang patut dicermati. Bukan sekadar percontohan kecil yang berhenti di laporan donor, agaknya SNV memang menyiapkan strategi yang lebih serius untuk memperluas jangkauan model ini.

Dari sisi industri, Louis Dreyfus ikut angkat bicara. Harry Puguh Sosiawan, perwakilan perusahaan komoditas asal Prancis itu, menegaskan bahwa pertanian regeneratif tidak bisa jalan sendiri tanpa keterlibatan penuh dari petani. "Kami akan mendorong perusahaan dan petani kelapa sawit untuk bersama-sama membangun agrikultur regeneratif guna meningkatkan kesejahteraan bersama," ungkap Harry. Komitmen dari korporasi sekelas Louis Dreyfus bukan hal yang bisa diabaikan, mengingat pengaruhnya yang cukup dalam rantai pasok komoditas global.

Bukti paling konkret justru datang dari lantai forum, bukan dari panggung korporasi. Syahrianto dari Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhan Batu berdiri dan bicara soal apa yang sudah mereka kerjakan. "Bukti nyata pembangunan agrikultur regeneratif sudah kami lakukan di lahan perkebunan kelapa sawit milik kami di daerah Labuhan Baru," ungkap Syahrianto. Ia sekaligus mengundang peserta forum untuk datang langsung melihat hasilnya.

Undangan yang terdengar sederhana itu sebenarnya sinyal penting. Kalau petani swadaya skala kecil di Labuhan Batu bisa membuktikan model ini berjalan, argumen bahwa pertanian regeneratif hanya cocok untuk perusahaan besar dengan modal tebal mulai kehilangan pijakan. Seriuslah dengan angka ini: rata-rata petani swadaya mengelola lahan di bawah empat hektare.

Pertanyaannya, berapa cepat transisi ini bisa berjalan di skala nasional, dan siapa yang menanggung biaya konversinya? Petani swadaya jelas tidak punya ruang finansial untuk eksperimen panjang. Di sinilah kolaborasi antara SNV, korporasi, dan asosiasi petani perlu membuktikan diri, bukan sekadar wacana forum.