RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Kamboja Raja Libur ASEAN 2026, Indonesia Keenam de...

Internasional

Kamboja Raja Libur ASEAN 2026, Indonesia Keenam dengan 17 Hari

Data Kalender Digital ASEAN 2026 mengungkap Kamboja memimpin daftar negara dengan libur nasional terbanyak, yakni 23 hari, sementara Indonesia hanya mencatatkan 17 hari dan Laos menjadi yang paling "pelit" libur dengan 8 hari.

Indonesia Leads Southeast Asia with the Most Public Holidays Southeast Asia is known for its cultural diversity, and that extends to how each country celebrates its traditions through public holiday

Kamboja menjadi jawara libur di Asia Tenggara tahun ini. Berdasarkan dokumen Kalender Digital ASEAN 2026, negara kerajaan itu mencatatkan 23 hari libur nasional, paling banyak di antara seluruh anggota ASEAN dan jauh melampaui rata-rata kawasan.

Angka itu bukan kebetulan. Kalender libur Kamboja sarat perayaan kerajaan dan keagamaan yang berakar dalam, termasuk Festival Air dan Pchum Ben yang masing-masing berlangsung tiga hari penuh. Dua festival itu saja sudah menyumbang enam hari libur sekaligus.

Thailand menyusul di posisi kedua dengan 21 hari. Songkran, perayaan Tahun Baru Thailand yang terkenal dengan tradisi perang air, berlangsung tiga hari dan menjadi salah satu periode libur terpanjang di negara itu, selain sejumlah hari libur yang terkait langsung dengan institusi kerajaan.

Filipina dan Myanmar berbagi posisi ketiga dengan masing-masing 19 hari. Yang perlu dicermati dari Myanmar adalah faktor Thingyan, Festival Air sekaligus Tahun Baru Myanmar, yang bisa berlangsung hingga lima hari berturut-turut. Satu event, lima hari absen kantor. Rekor untuk satu perayaan tunggal di kawasan ini.

Malaysia menorehkan 18 hari libur nasional, mencerminkan keberagaman agama yang menjadi identitas negara itu. Hari raya Islam, Buddha, Hindu, hingga Kristen semuanya masuk kalender resmi, ditambah Hari Merdeka dan Hari Malaysia.

Indonesia berada di urutan keenam dengan 17 hari. Kalender libur nasional mencakup hari raya dari agama-agama yang diakui negara, Hari Lahir Pancasila, Hari Kemerdekaan, plus dua hari khusus untuk Idul Fitri 1447 H. Vietnam membukukan angka yang sama, 17 hari, meski dengan karakter yang jauh berbeda: jatah libur Tet, perayaan Tahun Baru Tradisional Vietnam, bisa molor hingga sembilan hari sekaligus. Dari sisi total hari, keduanya setara. Dari sisi libur panjang beruntun, Vietnam jelas unggul.

Brunei Darussalam mencatatkan 16 hari, dengan portofolio libur yang didominasi peringatan Islam, ditambah Tahun Baru Imlek dan hari ulang tahun Sultan ke-80. Di bawahnya, Timor-Leste punya 13 hari libur yang sebagian besar berputar di sekitar peringatan kemerdekaan dan hari besar Katolik.

Dua posisi terbawah ditempati Singapura dan Laos. Sebelas hari libur nasional, angka yang agaknya konsisten dengan reputasi Singapura sebagai negara paling workaholic di kawasan, meski distribusinya disebut merata lintas kelompok agama. Laos menutup daftar dengan 8 hari, paling sedikit di seluruh ASEAN. Tiga di antaranya habis untuk Tahun Baru Laos, sisanya Hari Nasional dan beberapa peringatan terpilih.

Data ini memberi gambaran yang lebih luas dari sekadar soal siapa paling banyak libur. Bagi pelaku bisnis yang beroperasi lintas negara di kawasan, perbedaan kalender ini bukan hal sepele, terutama saat harus mengoordinasikan jadwal transaksi, pengiriman, atau rapat lintas batas. Sembilan hari Tet di Vietnam atau lima hari Thingyan di Myanmar bisa jadi penghambat nyata, kalau tidak diantisipasi dari jauh-jauh hari.