Kalau kamu pikir Indonesia termasuk negara yang paling royal kasih hari libur, agaknya perlu pikir ulang.
Berdasarkan Kalender Digital ASEAN 2026 dan publikasi resmi ASEAN Secretariat soal National Holidays, Kamboja menempati posisi pertama sebagai negara dengan hari libur nasional terbanyak di Asia Tenggara: 23 hari dalam setahun. Jauh melampaui rata-rata regional.
Apa yang bikin Kamboja seperkasa itu? Kombinasinya unik. Peringatan kerajaan yang masih terpelihara, hari kemenangan atas tragedi genosida, Tahun Baru Khmer, hingga ulang tahun Raja Norodom Sihamoni semuanya masuk kalender nasional. Festival Air dan Pchum Ben masing-masing mendapat jatah tiga hari libur berturut-turut. Tidak banyak negara yang berani mengalokasikan libur sepanjang itu untuk satu perayaan saja.
Di bawah Kamboja, Thailand mencatat 21 hari libur nasional. Songkran, perayaan Tahun Baru Thailand yang identik dengan perang air di jalanan Bangkok, berlangsung tiga hari. Sejumlah hari terkait kegiatan kerajaan turut mengerek angka total. Filipina menyusul di posisi ketiga dengan kombinasi hari libur reguler dan hari-hari khusus, termasuk Malam Natal dan perayaan akhir tahun.
Myanmar layak mendapat catatan tersendiri. Festival Air Thingyan alias Tahun Baru Myanmar berlangsung lima hari berturut-turut, rekor terpanjang untuk satu perayaan tunggal di seluruh kawasan. Rekor yang, jujur saja, tidak mudah digeser. Malaysia menyusul dengan kalender yang mencerminkan kemajemukan masyarakatnya: Hari Raya Islam, Waisak, Deepavali, dan Natal semuanya masuk, ditambah Hari Malaysia serta Hari Merdeka.
Indonesia? Posisi keenam, dengan 17 hari libur nasional pada 2026, sejajar Vietnam. Cakupannya lintas agama: hari besar keagamaan, peringatan nasional seperti Hari Lahir Pancasila dan Hari Kemerdekaan, plus dua hari libur Idul Fitri 1447 H. Penetapannya lewat surat keputusan bersama tiga kementerian, yakni Kementerian Agama, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Kementerian PANRB.
Vietnam juga membukukan 17 hari libur, tapi punya satu keistimewaan yang bikin iri: Tahun Baru Tradisional Tet berlangsung sembilan hari berturut-turut. Sembilan hari. Bukan main.
Brunei Darussalam mengisi kalendernya dengan hari libur Islam, Tahun Baru Imlek, dan peringatan ulang tahun Sultan yang ke-80. Timor-Leste mengandalkan peringatan kemerdekaan dan perayaan keagamaan Katolik. Singapura, meski kondang dengan budaya produktivitasnya, tetap mempertahankan keberagaman hari libur meski jumlahnya relatif sedikit. Paling buncit, Laos hanya menetapkan delapan hari libur nasional, sebagian besar terpusat pada Tahun Baru Laos tiga hari dan Hari Nasional.
Perbedaan yang cukup mencolok ini bukan tanpa sebab. Faktor keagamaan, struktur pemerintahan, warisan budaya, hingga sistem monarki yang masih aktif di beberapa negara turut membentuk seberapa panjang kalender libur masing-masing. Kamboja dan Thailand, keduanya monarki dengan tradisi kerajaan yang kuat, konsisten bertengger di papan atas. Negara-negara dengan orientasi produktivitas tinggi seperti Singapura dan Laos memilih efisiensi.
Bagi pelaku pasar, data ini bisa jadi sinyal kecil yang kerap terabaikan. Semakin panjang kalender libur suatu negara mitra, semakin besar pula potensi gangguan pada transaksi dan rantai pasok lintas batas, terutama bagi bisnis yang bergantung pada ritme kerja harian di Kamboja atau Thailand.