RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Kacamata AR Snap Seharga Rp35 Juta: Taruhan Besar...

Tekno

Kacamata AR Snap Seharga Rp35 Juta: Taruhan Besar Era Post-Smartphone

CEO Snap Evan Spiegel meluncurkan Specs, kacamata AR seharga USD 2.195, dengan keyakinan konsumen sudah lelah menatap layar. Para bos teknologi global kompak: era smartphone sedang menuju senja.

Para Pentolan Teknologi Ramal Kematian Smartphone

Hampir dua dekade setelah iPhone mengubah cara manusia berinteraksi dengan dunia, sejumlah pemimpin industri teknologi mulai berani mengucapkan hal yang dulu terdengar mustahil: smartphone mungkin sudah mendekati puncak relevansinya.

Yang terbaru, CEO Snap Evan Spiegel memperkenalkan Specs, kacamata augmented reality pertama dari perusahaannya yang ditujukan untuk konsumen umum. Dibanderol USD 2.195 atau sekitar Rp35,7 juta, harga Specs lebih dari 15 kali lipat di atas Spectacles, kacamata kamera Snap seharga USD 130 yang diluncurkan pada 2016. Bukan produk yang bisa dibeli sambil lalu.

Tapi itulah taruhannya. Spiegel yakin konsumen sudah begitu jenuh menatap layar hitam di tangan mereka sehingga rela merogoh kocek dalam untuk sesuatu yang berbeda secara fundamental. "Hampir 20 tahun sejak peluncuran iPhone, orang-orang kini siap memandang teknologi komputasi dengan cara berbeda," kata Spiegel. Ia menyebut keluhan fisik yang kian umum: nyeri leher akibat menunduk terlalu lama, perasaan melewatkan momen nyata karena terlalu asyik scroll.

Specs dirancang dengan lensa tembus pandang yang memungkinkan pengguna melihat konten digital tanpa mengalihkan pandangan dari dunia sekitar. Hands-free, tatap lurus ke depan, tanpa layar pekat yang memisahkan pengguna dari lingkungannya. Perangkat ini rencananya mulai dikirim akhir tahun ini di Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.

Spiegel tidak sendirian. CEO Qualcomm Cristiano Amon sudah lama menggembar-gemborkan kacamata pintar sebagai penyaing serius smartphone. Ia melihat katalis utamanya bukan sekadar soal hardware, tapi gelombang AI agentic yang mengubah cara kita berinteraksi dengan teknologi. "Ponsel akan berpusat di sekitar agen. Kelas perangkat yang baru juga akan berpusat pada agen. Dan agen inilah yang akan memahami niat manusia," jelas Amon, seraya menegaskan ponsel tidak akan lenyap sepenuhnya, hanya bergeser perannya.

Angka yang Amon sebut agaknya layak dicermati serius: pengiriman kacamata pintar saat ini masih di kisaran puluhan juta unit per tahun. Dalam beberapa tahun, ia prediksi angkanya bisa meledak ke ratusan juta dan mendekati skala pasar smartphone. Prediksi ambisius, setidaknya itu klaim sang CEO.

Mark Zuckerberg lebih dulu menyuarakan visi serupa, dan dengan perbandingan yang cukup provokatif. "Miliaran orang mengenakan kacamata atau lensa kontak untuk mengoreksi penglihatan. Dan saya rasa kita sedang berada di momen yang mirip dengan saat ponsel pintar pertama kali muncul," ujar bos Meta itu. Ia juga sulit membayangkan situasi beberapa tahun lagi di mana sebagian besar kacamata yang dipakai orang bukan kacamata AI.

Tiga nama besar, satu arah prediksi. Bukan kebetulan.

Dari sudut pasar modal, peluncuran Specs menjadi katalis yang dipantau analis. Citizens mempertahankan rating mereka atas saham Snap, sinyal bahwa peluncuran ini setidaknya tidak mengubah pandangan skeptis yang sudah mengakar. Harga premium Specs jelas mempersempit segmen konsumen potensial. Jalan dari produk niche ke adopsi massal tidak pernah semulus presentasi di atas panggung.

Pertanyaan sesungguhnya bukan apakah kacamata AR akan menggeser smartphone. Tapi seberapa cepat. Dan siapa yang akan keluar sebagai pemenang di kategori yang baru saja benar-benar mulai bergerak.