SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Jepang Uji Mesin Pesawat Hipersonik Mach 5, Tokyo-...

Bisnis

Jepang Uji Mesin Pesawat Hipersonik Mach 5, Tokyo-AS Bisa 2 Jam

Tim peneliti Universitas Waseda dan JAXA berhasil melakukan uji pembakaran pertama mesin jet hipersonik Mach 5 pada April 2026. Bila terealisasi, penerbangan Tokyo ke AS yang kini memakan 10-15 jam bisa dipangkas menjadi hanya dua jam.

Jepang Sukses Uji Mesin Pesawat Hipersonik, Tokyo-AS Cuma 2 Jam

Uji pembakaran pertama mesin jet hipersonik berkecepatan Mach 5 berhasil diselesaikan tim peneliti Jepang pada April 2026, pencapaian yang agaknya akan mengubah wajah penerbangan komersial global dalam dua dekade ke depan.

Tim gabungan dari Universitas Waseda di Tokyo dan Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) menjalankan uji coba itu menggunakan pesawat eksperimental sepanjang dua meter, kira-kira seperseratus lima puluh dari ukuran pesawat penumpang yang mereka bayangkan. Hasilnya melampaui ekspektasi awal: pengoperasian mesin dan ketahanan panas berfungsi hampir persis seperti yang dirancang, bahkan dalam kondisi tekanan atmosfer hanya seperseratus dari permukaan laut.

Implikasi komersilnya tidak kecil. Penerbangan langsung Tokyo ke AS yang saat ini menyedot 10 hingga 15 jam bisa dipangkas jadi cuma dua jam. Pesawat ini dirancang terbang di ketinggian 25 kilometer, lebih dari dua kali lipat ketinggian jelajah pesawat komersial biasa, dengan kecepatan sekitar 5.400 kilometer per jam. Concorde yang pensiun pada 2003? Hanya mentok Mach 2.

"Hasil ini masih merupakan langkah pertama. Impian kami adalah menghubungkannya dengan demonstrasi penerbangan," ujar Tetsuya Sato, anggota tim peneliti sekaligus profesor di Universitas Waseda.

Proyek yang mulai dirancang sejak 2013 ini punya lini masa yang, jujur saja, tidak singkat. Hideyuki Taguchi, profesor dari Tokyo University of Science yang sebelumnya menjabat sebagai eksekutif senior riset dan pengembangan di JAXA hingga tahun fiskal 2025, menjelaskan bahwa pengembangan pesawat hipersonik jauh lebih rumit dibanding pesawat konvensional. Kalau pesawat biasa cukup 10 tahun, pesawat hipersonik butuh dua tahap demonstrasi tersendiri. "Kami berharap pengembangan ini dapat selesai dalam waktu sekitar 20 tahun," sebut Taguchi.

Tantangan teknisnya bukan perkara sepele. Gelombang kejut yang terbentuk di sekitar badan pesawat memaksa mesin tetap stabil dalam aliran udara yang sangat kompleks. Kompresi udara yang ekstrem pun menuntut sejumlah komponen tahan terhadap suhu hingga 1.000 derajat Celsius. Masif, dan tidak ada jalan pintas.

Satu keunggulan desain yang patut dicermati: karena pesawat ini mampu lepas landas dan mendarat secara horizontal, ia tetap bisa menggunakan landasan pacu bandara konvensional. Tidak perlu infrastruktur baru yang mahal. Bila kelak dilengkapi mesin roket, pesawat ini bahkan diklaim mampu menyentuh ketinggian 100 kilometer, batas luar angkasa.

Target komersialisasi yang dipatok tim peneliti adalah dekade 2040-an, setidaknya itu klaim mereka sekarang. Jarak antara uji laboratorium dan sertifikasi pesawat penumpang komersial bisa sangat panjang, dan sejarah penerbangan sudah lebih dari sekali membuktikannya. Yang jelas, dengan uji pembakaran pertama ini, Jepang sudah resmi masuk perlombaan hipersonik sipil yang juga dikejar sejumlah negara besar lain.