Sudah lebih dari Rp1.200 triliun dibakar. Yen tetap tidak mau bangkit.
Pada penutupan perdagangan Kamis (18/6/2026), nilai tukar yen amblas 0,46% ke JPY 161,37 per dolar AS. Secara intraday, pelemahan sempat lebih dalam hingga menyentuh JPY 161,80/US$. Satu level lagi, tepatnya di JPY 161,96/US$, dan yen resmi mencatat posisi terlemah sejak 1986, empat dekade yang lalu.
Konteksnya yang bikin geleng kepala.
Kementerian Keuangan Jepang sudah menggelontorkan lebih dari US$70 miliar untuk intervensi pasar valuta asing, dengan porsi terbesar, sekitar JPY 11,7 triliun atau setara US$72,8 miliar, digunakan sepanjang April hingga Mei saja. Intervensi itu sempat memberi napas: pada 30 April, yen menguat dari JPY 160,39 ke JPY 156,6 dalam hitungan jam, bahkan sehari berikutnya sempat menyentuh JPY 155. Penguatan itu tidak bertahan lebih dari beberapa hari.
BOJ pun bergerak. Pada Selasa (16/6/2026), bank sentral menaikkan suku bunga kebijakan jangka pendek dari 0,75% menjadi 1%, level tertinggi sejak 1995. Keputusan ini disetujui 7-1. Satu-satunya penolak adalah anggota dewan Toichiro Asada, yang menilai risiko konflik Timur Tengah terhadap pertumbuhan lebih besar dari risiko inflasi. Kenaikan bunga ini datang saat tekanan inflasi memuncak, sebagian besar dipicu perang Iran yang membuat harga energi tetap tinggi.
Secara teori, suku bunga lebih tinggi seharusnya membuat yen lebih menarik. Kenyataannya, pasar agaknya sudah bosan dengan teori.
Masahiko Loo, senior fixed income strategist State Street Investment Management, menyebut kenaikan bunga BOJ ini tidak lebih dari sekadar "plester untuk luka tembak." Masalah yen sudah terlalu dalam untuk diselesaikan dengan satu kali kebijakan. Pasar memang sudah lama mengantisipasi langkah ini, sehingga dampaknya terhadap yen menjadi sangat terbatas.
Masalah strukturalnya memang berat. Selisih imbal hasil antara Jepang dan AS masih menganga lebar: obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun berada di 2,64%, sementara US Treasury di level yang sama memberikan imbal hasil 4,451%. Gap selebar itu cukup untuk membuat investor rasional tetap memilih dolar. Carry trade pun kembali subur, strategi klasik meminjam yen berbunga murah lalu menempatkannya di aset berbunga tinggi di negara lain. Data CFTC menunjukkan leveraged funds sudah membangun posisi short yen lebih dari 115.000 kontrak per pekan yang berakhir 9 Juni, posisi bearish terbesar sejak November 2017.
JPMorgan menilai pasar sudah "price in" potensi intervensi dan kenaikan bunga BOJ. Efek kejutnya sudah menguap, berbeda dari dua tahun lalu ketika langkah serupa masih mampu mengguncang posisi investor.
Tekanan juga datang dari sisi impor energi. Jepang sangat bergantung pada energi dari luar negeri, dan dengan harga yang terjaga tinggi akibat situasi geopolitik Timur Tengah, kebutuhan dolar AS untuk membayar tagihan impor ikut melonjak. Ini tekanan struktural, bukan sesaat. Bak gayung bersambut, dua beban ini, carry trade dan impor energi, saling memperkuat tekanan terhadap yen.
Dari sisi politik, arah pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang dinilai reflasioner ikut menambah ketidakpastian. Pada Februari, Takaichi menominasikan dua akademisi berhaluan dovish ke dewan BOJ: Asada, yang kini menjadi dissenter tunggal dalam keputusan kenaikan bunga terakhir, dan Ayano Sato, yang dijadwalkan masuk menggantikan Junko Nakagawa akhir Juni ini. Pasar membaca sinyal ini sebagai bukti bahwa Tokyo tidak benar-benar ingin kebijakan moneter terlalu ketat.
Peringatan verbal terus meluncur. Menteri Keuangan Satsuki Katayama kembali mengancam tindakan tegas terhadap pergerakan spekulatif. Deputi Gubernur BOJ Ryozo Himino menyatakan bank sentral terus memantau pergerakan mata uang. Entah kebetulan atau tidak, setiap kali peringatan serupa dilayangkan, pasar cuma bergeming sesaat sebelum melanjutkan tekanan.
Satu sinyal ambigu datang dari data inflasi CPI Jepang bulan Mei yang stabil, dengan inflasi inti masih di bawah target BOJ. Kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, ada ruang bagi BOJ untuk terus menaikkan bunga guna menahan yen, tapi sekaligus menunjukkan tekanan domestik belum sekuat yang dikhawatirkan. Pertanyaannya, berapa lama BOJ bisa terus menaikkan bunga jika konsumsi rumah tangga belum benar-benar panas?
Selama selisih imbal hasil AS-Jepang masih selebar ini dan carry trade masih menawarkan cuan yang relatif aman, yen akan terus jadi bulan-bulanan. Pertanyaannya bukan lagi apakah Jepang akan kembali intervensi, tapi seberapa dalam kantong mereka dan sampai kapan pasar mau mendengarkan.