SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  JAXA Uji Mach 5, Tokyo-AS 2 Jam: Perlombaan Hipers...

Bisnis

JAXA Uji Mach 5, Tokyo-AS 2 Jam: Perlombaan Hipersonik Mulai Serius

Badan antariksa Jepang JAXA berhasil memvalidasi sistem krusial pesawat hipersonik pada kecepatan Mach 5 di fasilitas Kakuda, membuka peluang penerbangan Tokyo-Amerika Serikat hanya dalam 2 jam, meski komersialisasi masih butuh sekitar 20 tahun.

Jepang Uji Coba Pesawat Penumpang Hipersonik, Tokyo-AS Cuma 2 Jam

Uji coba di Prefektur Miyagi itu terdengar seperti fiksi ilmiah, tapi datanya nyata. Peneliti Badan Penjelajahan Antariksa Jepang (JAXA) berhasil mensimulasikan kondisi penerbangan pada kecepatan Mach 5, lima kali kecepatan suara, di fasilitas uji mesin ramjet Pusat Antariksa Kakuda. Hasilnya mengejutkan banyak pihak di industri dirgantara.

Yang diuji bukan sekadar teori. Model pesawat eksperimental ditempatkan di bawah tekanan atmosfer ekstrem yang mensimulasikan gesekan udara sesungguhnya pada kecepatan hipersonik. Suhu lambung pesawat melonjak mendekati 1.000 derajat Celsius. Sistem pembakaran mesin ramjet tetap stabil. Stabilitas aerodinamis terjaga. Tiga parameter krusial itu lolos semua, dan itulah yang membuat pengujian ini dikategorikan sebagai sukses besar.

Angka paling sering dikutip dari proyek ini memang mencolok: Tokyo ke Amerika Serikat dalam 2 jam. Penerbangan komersial konvensional rute yang sama saat ini memakan waktu sekitar 12 jam. Lompatan itu dimungkinkan oleh dua hal sekaligus: kecepatan jelajah sekitar 5.310 km/jam atau kira-kira 3.300 mph, dan ketinggian terbang di lapisan stratosfer sekitar 27 kilometer di atas permukaan bumi, lebih dari dua kali lipat ketinggian jelajah pesawat komersial biasa. Di ketinggian itu, hambatan udara jauh lebih tipis.

Sebagai referensi, Concorde yang pensiun pada 2003 hanya mampu menyentuh Mach 2, sekitar 1.400 mph. Pesawat hipersonik JAXA ini, kalau jadi, akan melesat dua setengah kali lebih cepat dari legenda supersonik itu. Bukan main.

Langkah berikutnya: memasang pesawat eksperimental tersebut pada roket pendorong untuk demonstrasi penerbangan Mach 5 sungguhan di atmosfer bumi. Ini bukan lagi simulasi laboratorium. Kapan tepatnya? Belum ada tanggal pasti yang diumumkan JAXA, hanya janji "dalam waktu dekat."

Soal kapan pesawat ini bisa benar-benar dinaiki penumpang, Hideyuki Taguchi, profesor dari Tokyo University of Science yang terlibat dalam proyek ini, meredam ekspektasi cukup lugas. "Mengembangkan pesawat konvensional saja biasanya membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Karena pengembangan pesawat penumpang hipersonik membutuhkan dua tahap demonstrasi, pesawat eksperimental diikuti oleh pesawat penumpang utuh, kami berharap pengembangannya dapat selesai dalam waktu sekitar 20 tahun ke depan," ujarnya kepada Mainichi.

Dua dekade bukan waktu yang singkat. Tapi di industri ini, 20 tahun justru tergolong ambisius untuk teknologi yang belum pernah dioperasikan secara komersial sama sekali. Entah kebetulan atau tidak, jadwal itu bersamaan dengan proyeksi pergantian generasi infrastruktur penerbangan global.

Jepang juga tidak sedang berlari sendirian. NASA lewat pesawat eksperimental X-59 dan Boom Supersonic dengan jet XB-1 sama-sama berjibaku dengan dua hambatan klasik pesawat super cepat: efisiensi bahan bakar yang boros dan dentuman sonik yang selama ini membuat pesawat supersonik dilarang melintas di atas daratan berpenduduk. Pertanyaannya, siapa yang lebih dulu memecahkan dua masalah itu?

Bagi pelaku bisnis internasional yang kini menghabiskan sepertiga hari kerja hanya untuk duduk di kabin, proyek JAXA ini bisa jadi kabar yang patut dicermati. Kalau data ini bisa dipercaya, setidaknya satu laboratorium di Miyagi sudah membuktikan separuh persamaannya.