Rumor itu kini resmi dipatahkan.
Kabar yang beredar soal rencana Jaecoo membawa J5 versi hybrid ke Indonesia dipastikan tidak akan terwujud dalam waktu dekat. Sub merek dari grup Chery ini memilih fokus ke kendaraan listrik murni, dan alasannya tidak jauh dari kondisi energi global yang sedang kacau.
Jim Ma, Business Unit Director Jaecoo Indonesia, menyinggung lonjakan harga bensin yang melanda hampir semua negara. "Saya pikir saat ini semuanya mengalami masalah harga bensin. Bukan hanya di negara kita, tetapi seluruh dunia," katanya di Jakarta Selatan, Sabtu (11/4). Dari situ, arah Jaecoo untuk pasar Indonesia agaknya sudah terbentuk jelas.
Masuk akal, sebenarnya. Kalau krisis energi terus menekan harga BBM, kendaraan hybrid yang masih bergantung pada bahan bakar fosil kehilangan sebagian daya tariknya dibanding BEV murni. Jim menegaskan itu secara eksplisit. "Kalau saya bisa bilang, mobil listrik jadi lebih penting dari yang lainnya di situasi seperti ini," tegasnya.
Jaecoo sebetulnya tidak kekurangan pilihan di lini hybrid. Di pasar China, J5 sudah dipasarkan dalam varian Super Hybrid System alias SHS. Spesifikasinya lumayan: mesin 1.500 cc TGDI Dedicated Hybrid Engine dipadukan motor elektrik dan baterai 1,83 kWh, menghasilkan tenaga gabungan 165 kW atau sekitar 221 hp, disalurkan ke roda depan lewat transmisi Dedicated Hybrid Transmission. Tampilannya pun tak beda jauh dari versi listriknya.
Teknologi hybrid bukan barang baru bagi Jaecoo di Indonesia. J7 dan J8 versi SHS sudah lebih dulu mengaspal di sini, jadi J5 SHS bukan sesuatu yang mustahil secara teknis.
Potensi membawa J5 SHS ke Indonesia, kata manajemen, belum tertutup sepenuhnya. Masih menunggu kondisi pasar. Klaim yang perlu waktu untuk dibuktikan, mengingat sinyal hari ini cukup gamblang: listrik murni dulu, hybrid belakangan.
Buat konsumen yang menunggu opsi J5 dengan jangkauan lebih luwes berkat mesin bensin cadangan, sabar dulu.