JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Iran Ajukan 14 Poin Damai, Trump Akui Meninjau tap...

Internasional

Iran Ajukan 14 Poin Damai, Trump Akui Meninjau tapi Belum Yakin

Teheran kirim proposal 14 poin via Pakistan, minta penyelesaian konflik permanen dalam 30 hari. Trump mengaku sedang mempelajarinya, tapi di sisi lain mengancam konsekuensi 'menghancurkan' jika Iran menyasar kapal AS.

Di satu tangan, Iran mengulurkan proposal damai. Di tangan lain, Trump mengacungkan ancaman. Itulah gambaran negosiasi AS-Iran per awal Mei 2026, yang berlangsung di bawah bayang-bayang blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz.

Teheran mengirim rancangan perdamaian berisi 14 poin melalui Pakistan sebagai penengah, merespons proposal sembilan poin yang sebelumnya didorong Washington. Bedanya, Iran tidak mau sekadar gencatan senjata dua bulan. Mereka minta penyelesaian permanen, dan minta itu selesai dalam 30 hari.

Trump mengaku sedang meneliti dokumen tersebut. "Saya sedang meninjau konsepnya. Tapi belum tentu bisa sepakat," ujarnya kepada wartawan di Florida. Pernyataan yang khas Trump: membuka pintu tanpa benar-benar mengundang masuk.

Di Fox News, nada berubah. Iran kini disebut lebih mudah diajak bicara, tapi sekaligus datang peringatan keras: jika Teheran mencoba menyasar kapal-kapal AS di dekat Hormuz, konsekuensinya akan menghancurkan. "Persiapan Amerika sedang berlangsung, SEMUANYA SUDAH SIAP, kita bisa menggunakan semuanya!" katanya.

Apa saja yang diminta Iran? Daftar 14 poin itu panjang dan, jujur saja, ambisius. Pencabutan seluruh sanksi ekonomi, pembebasan aset yang dibekukan senilai miliaran dolar, penarikan pasukan AS dari kawasan, sampai pembayaran ganti rugi perang. Iran juga meminta pengakuan hak mereka memperkaya uranium sesuai perjanjian internasional, penghentian operasi militer terhadap fasilitas nuklir, mekanisme baru pengelolaan Selat Hormuz, plus jaminan kebebasan navigasinya.

Bukan sekadar gencatan senjata. Ini lebih mirip syarat penyerahan.

Namun pengamat melihat ada sinyal menarik di balik teks yang keras itu. Paul Musgrave dari Universitas Georgetown menyebut ada indikasi fleksibilitas dalam proposal terbaru ini. "Terlihat ada pelunakan, terutama terkait prasyarat blokade di Selat Hormuz," katanya. Isyarat kecil, tapi dalam diplomasi, isyarat kecil kadang jadi pintu masuk.

Pintu itu dijaga tembok bernama ketidakpercayaan. Kenneth Katzman dari Soufan Center menilai hambatan terbesar bukan soal teks, melainkan soal keyakinan. Iran tidak benar-benar mempercayai Trump dan AS. "Itu hambatan utama negosiasi," ujarnya.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan bola kini ada di tangan Washington, apakah memilih jalur diplomasi atau konfrontasi. Tegas di permukaan, tapi agaknya juga mengandung sinyal bahwa Teheran sendiri sedang menunggu.

Dua isu yang paling sulit diurai tetap sama: program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz, jalur yang menanggung sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Selama dua hal itu belum ada titik temu, 14 poin di atas bisa jadi hanya pembukaan dari negosiasi yang masih sangat panjang. Entah kebetulan atau tidak, kedua isu itu juga tepat yang paling tidak mungkin dikompromikan oleh masing-masing pihak.