SABTU, 19 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Inflasi Turki April Tembus 32,37%, Tren Penurunan...

Ekonomi

Inflasi Turki April Tembus 32,37%, Tren Penurunan Mulai Goyah

Inflasi tahunan Turki kembali mengejutkan pasar, naik ke 32,37% pada April 2026 dari 30,9% di Maret, dengan tekanan bulanan yang juga melonjak signifikan.

Angka 32,37% itu bukan sekadar statistik. Bagi jutaan warga Turki yang sudah empat tahun hidup di bawah tekanan inflasi dua digit, laporan April ini sekali lagi menjadi pengingat keras bahwa pertempuran melawan kenaikan harga belum usai.

Badan statistik resmi Turki, TUIK, merilis data inflasi tahunan April di angka 32,37%, melampaui ekspektasi pasar sekaligus naik dari 30,9% yang tercatat pada Maret. Secara bulanan, harga konsumen terkerek 4,18%. Lonjakan yang cukup mencolok dibandingkan kenaikan 1,9% di bulan sebelumnya.

Pendorong utama tekanan harga bulan ini: perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar. Pola yang, jujur saja, sudah sangat familiar di Turki sejak krisis lira memburuk beberapa tahun silam.

Tapi angka resmi itu pun masih dipertanyakan. Kelompok Penelitian Inflasi (ENAG), yang terdiri dari ekonom independen, secara konsisten menantang data TUIK. Versi mereka untuk April jauh lebih suram: inflasi konsumen tahunan mencapai 55,38%. Selisih 23 poin persentase antara angka resmi dan estimasi independen ini bukan pertama kalinya memicu perdebatan soal kredibilitas data statistik Turki. Setidaknya itu yang terjadi hampir setiap bulan dalam beberapa tahun terakhir.

Turki sudah bergulat dengan inflasi dua digit sejak 2019, dengan angka tahunan yang konsisten bertahan di atas 30% dalam empat tahun terakhir. Puncaknya terjadi Mei 2024, saat inflasi dihajar angka di atas 75% sebelum perlahan melandai. Data April ini, agaknya, menandakan bahwa proses disinflasi tidak semulus yang diharapkan.

Bagi investor yang terekspos aset Turki atau lira, data ini layak dicermati. Laju inflasi yang kembali berakselerasi bisa mempersulit ruang manuver bank sentral, yang dalam beberapa bulan terakhir sudah terjepit antara tekanan harga dan kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan.

Pertanyaannya sekarang: apakah ini lonjakan sementara yang dipicu faktor musiman energi, atau sinyal awal bahwa tren disinflasi Turki mulai kehilangan tenaga?