SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Inflasi Mei 2026 Tembus 3,08%, Tekanan Harga Sudah...

Bisnis

Inflasi Mei 2026 Tembus 3,08%, Tekanan Harga Sudah Merembet Jauh dari Pangan

BPS mencatat inflasi tahunan Mei 2026 naik ke 3,08 persen, tertinggi sejak September 2025. Tekanan harga kini merembet dari pangan ke transportasi, perumahan, hingga kesehatan, memaksa semua pihak waspada.

Inflasi Mei 2026 Naik, Tekanan Harga Meluas ke Perumahan hingga Transportasi

Inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 tercatat 3,08 persen year on year, naik cukup tajam dari 2,42 persen pada April dan menjadi level tertinggi sejak September tahun lalu. Angka ini sedikit melampaui konsensus pasar di 2,97 persen, meski Samuel Sekuritas Indonesia sudah memperkirakan lebih tinggi di 3,09 persen.

Cerita di balik angkanya yang lebih menarik. Inflasi pangan melonjak ke 4,94 persen YoY dari 3,06 persen sebelumnya, tertinggi dalam delapan bulan. Volatile food terkerek 6,24 persen YoY, dipicu cabai merah, bawang merah, tomat, dan beras. Gangguan produksi akibat cuaca ekstrem, berakhirnya musim panen raya, permintaan menjelang Idul Adha yang masih tinggi. Kombinasi klasik yang sudah sering muncul, tapi selalu berhasil memukul.

Kali ini ceritanya tidak berhenti di situ. Tekanan harga mulai merembet ke perumahan, transportasi, kesehatan, restoran, perabot rumah tangga, komunikasi, rekreasi, sampai pendidikan. Inflasi inti ikut merayap ke 2,59 persen YoY dari 2,44 persen di April, level tertinggi dalam tiga bulan. Kelompok administered prices, yang mencakup BBM nonsubsidi, LPG nonsubsidi, dan tarif angkutan udara, tergerus ke 2,07 persen YoY seiring kenaikan harga energi global.

"Besarnya peningkatan tersebut menunjukkan bahwa inflasi bukan lagi hanya cerita tentang fluktuasi harga pangan, tetapi mencerminkan kenaikan biaya yang meluas, sejalan dengan depresiasi rupiah," kata Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su dalam risetnya.

Secara bulanan, inflasi Mei mencapai 0,28 persen MoM, lebih dari dua kali lipat dibanding April yang hanya 0,13 persen, dan jauh melampaui ekspektasi pasar di 0,14 persen. Angka yang, jujur saja, cukup mengejutkan. Akselerasi tekanan harga sepanjang Mei ternyata lebih cepat dari yang diantisipasi.

Bank Indonesia membaca situasi ini dengan nada yang lebih tenang. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut inflasi Mei masih dalam kisaran sasaran 1,5 persen hingga 3,5 persen, hasil dari konsistensi kebijakan moneter dan sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah. Bank sentral meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran pada 2026 dan 2027. Setidaknya itu klaim resminya, dan pembuktiannya masih panjang jika tekanan eksternal terus meningkat.

Samuel Sekuritas punya pandangan yang lebih waspada. Kenaikan BI Rate 50 basis poin ke level 5,25 persen dinilai belum cukup untuk menstabilkan rupiah. Depresiasi yang berlanjut berisiko memperburuk inflasi impor. Firma riset ini memproyeksikan inflasi akan bertahan di kisaran 3,0 persen hingga 3,3 persen YoY dalam beberapa bulan mendatang, dengan risiko tambahan dari kemunculan El Nino yang dapat menekan pasokan pangan, dan berlanjutnya konflik Iran yang bisa mendongkrak biaya logistik lebih jauh.

Ada satu temuan yang layak dicermati dari Samuel Sekuritas: kenaikan inflasi inti lebih banyak dipicu gangguan sisi pasokan ketimbang tarikan permintaan. Kondisi lapangan kerja yang masih lemah, ditambah bukti lapangan soal meningkatnya perdagangan barang murah dalam pola belanja konsumen, menjadi dasar argumen tersebut. Beda diagnosis, beda pula resepnya. Inflasi yang ada bukan karena ekonomi sedang panas, melainkan karena biaya naik sementara daya beli belum pulih.

Harry Su mendesak pemerintah segera memperbaiki kondisi pasokan pangan domestik lewat langkah stabilisasi konkret agar lonjakan inflasi bulan-bulan mendatang bisa diredam. Pasar agaknya sudah memperhitungkan angka Mei ini. Tapi risiko yang menumpuk di cakrawala? Belum sepenuhnya terprice.