SABTU, 19 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Inflasi Filipina Tembus 7,2% di April, Sopir Jeepn...

Ekonomi

Inflasi Filipina Tembus 7,2% di April, Sopir Jeepney Hanya Bawa Pulang $6 Sehari

Inflasi tahunan Filipina melonjak ke 7,2% pada April 2026, jauh melampaui konsensus analis, dipicu krisis energi global yang juga menghancurkan pendapatan harian pengemudi angkutan umum.

Angka 7,2% itu bukan sekadar statistik.

Otoritas Statistik Filipina merilis angka inflasi tahunan April 2026 pada Selasa (5/5): melonjak dari 4,1% di Maret, dan kini menjadi yang tertinggi sejak Maret 2023. Angka ini melampaui konsensus analis yang sebelumnya sudah cukup suram di kisaran 5,6%, bahkan menembus batas atas proyeksi Bank Sentral Filipina (BSP) yang dipatok di antara 5,6% hingga 6,4%.

Pasar agaknya belum siap.

Kenaikan biaya energi dan listrik jadi biang utama. Konflik di Timur Tengah mendongkrak harga minyak mentah global, dan efeknya merambat ke setiap sudut ekonomi Filipina, dari pompa bensin sampai tagihan listrik rumah tangga. Peso yang terus tergerus memperparah situasi, membuat inflasi impor kian dalam. Ekonom Moody's Analytics Sarah Tan menyebut tekanan paling keras terasa di sektor transportasi dan pangan, dua kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

HSBC dan Chinabank bahkan memperingatkan inflasi bisa mentok di 6,2% dan bertahan tinggi hingga tutup tahun, sebuah proyeksi yang patut dicermati mengingat risiko El Niño masih mengintai produksi pangan dan pasokan pupuk pun seret. Security Bank dan ANZ Research ikut menyoroti kenaikan harga beras sebagai faktor yang tidak boleh diremehkan.

Di luar angka-angka itu, ada wajah-wajah yang lebih konkret.

Para sopir jeepney, angkutan umum ikonik Filipina, tengah menghadapi situasi paling berat dalam karier mereka. Pendapatan harian yang dulu mencapai 50 dolar AS kini amblas ke angka 6 dolar, setelah solar dan bensin melonjak hampir tiga kali lipat sejak Maret. Margin yang dari dulu sudah tipis kini nyaris nol.

Negara belum hadir cukup cepat. Warga mendesak Manila memberikan subsidi tetap dan memotong pajak minyak sementara waktu. Sambil menunggu kebijakan itu terwujud, masyarakat sipil turun tangan. Di Kota Marikina, Trining's Kitchen Stories menyediakan makan gratis bagi para pengemudi, mengandalkan donasi dari individu dan pelaku usaha lokal. Lebih dari seribu paket makanan hangat sudah disalurkan. Pemiliknya, Jayson Maulit, bilang semangat gotong royong memang sudah mendarah daging di identitas negaranya.

Pertanyaannya, sampai kapan solidaritas warga bisa menambal lubang yang seharusnya ditutup kebijakan?

Bagi investor, ini sinyal yang perlu dibaca hati-hati. Inflasi yang berlarut-larut di atas target BSP membuka ruang bagi pengetatan moneter lanjutan, yang pada gilirannya bisa meredam pertumbuhan. Filipina bukan market yang terisolasi dari radar regional. Kalau tekanan harga energi global belum mereda, entah kebetulan atau tidak, negara-negara tetangganya, termasuk Indonesia, akan menghadapi ujian serupa.