JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Inflasi Filipina Meledak ke 7,2%, BSP Terancam Nai...

Ekonomi

Inflasi Filipina Meledak ke 7,2%, BSP Terancam Naikkan Bunga Agresif

Inflasi Filipina melonjak ke 7,2% pada April 2026, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, jauh melampaui estimasi pasar. Perang di Timur Tengah jadi biang kerok utama lewat lonjakan harga BBM dan listrik.

Lonjakan itu datang terlalu cepat bahkan untuk ukuran negara yang terbiasa dengan volatilitas harga.

Inflasi Filipina menyentuh 7,2% secara tahunan pada April 2026, rekor tertinggi sejak 2023, dan jauh melampaui perkiraan konsensus yang dipatok Bloomberg di kisaran 5,6%-6,4%. Sebulan sebelumnya, inflasi masih di angka 4,1%. Lompatan lebih dari tiga poin persentase dalam satu bulan. Bukan angka biasa.

Otoritas Statistik Filipina (PSA) mengonfirmasi data tersebut. Tekanan harga menyebar luas, dipimpin lonjakan biaya energi. BBM dan tarif listrik jadi dua katalis utama, bukan kebetulan mengingat Filipina mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah yang kini sedang membara. Konflik bersenjata di sana menyerang dari dua arah sekaligus: harga minyak global terkerek, rantai pasokan tergerus.

Dampaknya sudah terasa di level paling bawah. Sopir angkot di Manila dilaporkan menjadi salah satu kelompok yang paling terpukul, sampai memicu gerakan solidaritas yang viral di media sosial. Bagi mereka, kenaikan harga BBM bukan statistik. Itu selisih antara pulang membawa uang atau pulang dengan tangan kosong.

Bagi Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP), ini situasi serba salah. Bank sentral sebelumnya sudah memberi sinyal ingin bergerak hati-hati soal pengetatan moneter, khawatir terlalu agresif akan mencekik pemulihan ekonomi yang masih rapuh. Angka April ini, kalau data ini bisa dipercaya sebagai gambaran tren, agaknya memaksa mereka merevisi kalkulasi tersebut habis-habisan.

"Kami tidak mengesampingkan kemungkinan adanya kenaikan bunga yang kuat di luar jadwal pertemuan rutin," ujar Emilio Neri Jr., kepala ekonom Bank of the Philippine Islands. Neri menambahkan bahwa BSP kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga acuan lebih dari 25 basis poin, baik dalam pertemuan reguler maupun melalui rapat darurat.

Kenaikan di luar siklus. Itu sinyal yang tidak main-main.

Filipina bukan satu-satunya yang kewalahan. Tekanan energi akibat eskalasi konflik Iran dan dinamika Teluk Persia sudah mulai menjalar ke sejumlah ekonomi Asia Tenggara yang sama-sama bergantung pada impor minyak. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah BSP akan menaikkan bunga. Seberapa cepat, dan seberapa besar. Pasar obligasi Filipina, entah kebetulan atau tidak, sudah mulai bergerak mendahului keputusan itu.