Serangan drone Ukraina yang membakar Pelabuhan Primorsk di Laut Baltik pekan lalu tidak membuat Jakarta panik. Belum perlu, sebetulnya.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung menegaskan insiden itu belum berdampak apa pun terhadap Indonesia. Alasannya sederhana: importasi bahan bakar minyak dari Rusia memang belum terealisasi. "Belum pengaruh, kita kan baru akan impor," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Senin (4/5).
Proses. Kata itu yang paling sering terdengar dari pejabat energi kita belakangan ini.
Yuliot menjelaskan kerja sama tersebut masih dalam tahap penyelesaian, melibatkan badan usaha dan skema kerja sama yang kini sedang dirampungkan. Soal kapan realisasinya, ia melempar bola ke Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. "Nanti kapan realisasinya akan disampaikan sama Pak Menteri," kata Yuliot.
Sinyal dari Moskow justru terasa lebih tegas. Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov menyatakan negaranya siap memasok minyak dan gas ke Indonesia sesuai kesepakatan yang telah dicapai, termasuk yang dibahas saat Presiden Prabowo Subianto dan Bahlil bertandang ke Moskow beberapa waktu lalu. "Kami siap memasok minyak dan gas kepada teman-teman kami, dan Indonesia adalah salah satu teman dan mitra strategis kami. Jadi, kami mengikuti perjanjian-perjanjian ini," kata Tolchenov usai pemutaran film di Jakarta, Senin malam.
Soal sanksi Uni Eropa, Tolchenov agaknya tidak terlalu ambil pusing. Sanksi itu ia sebut ilegal karena, menurutnya, hanya Dewan Keamanan PBB yang berwenang menjatuhkan sanksi terhadap negara berdaulat. Rusia, tambahnya, sudah hidup berdampingan dengan tekanan Barat lebih dari satu dekade. Tetap berdiri.
Bagi Indonesia, ini bukan semata soal energi murah. Sejak pecahnya perang di Ukraina, Rusia dikenal menawarkan minyak mentah dengan potongan harga yang lumayan, cukup menggiurkan buat Jakarta yang sedang berhitung keras menjaga harga BBM subsidi. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Hanya saja, jarak antara kesepakatan di atas kertas dan minyak yang benar-benar masuk ke tangki penyimpanan Pertamina masih cukup jauh. Selama realisasi belum ada, serangan ke Primorsk memang bukan urusan kita. Entah kebetulan atau tidak, posisi Jakarta pun relatif aman secara diplomatik, setidaknya untuk saat ini.
Pertanyaannya, berapa lama situasi nyaman ini bisa bertahan? Seberapa cepat finalisasi kontrak berjalan, dan apakah tekanan geopolitik dari mitra Barat bakal ikut memengaruhi keberanian Jakarta untuk benar-benar meneken kerja sama ini secara terbuka, itu yang patut dicermati.