Dari zona merah di pembukaan, IHSG berbalik dan ditutup menguat 39,06 poin atau 0,67% ke level 5.912 pada Kamis (9/7/2026). Total transaksi hari ini mencapai Rp12,05 triliun, melibatkan 27,08 miliar saham dalam 2,24 juta kali frekuensi perdagangan.
Perjalanannya tidak mulus. Sempat menyentuh level terendah di 5.839 di awal sesi pertama, indeks perlahan membalik arah seiring aksi beli yang masuk di saham-saham sektoral. Delapan dari 11 sektor ditutup hijau, dengan barang baku memimpin kenaikan 2,14%, diikuti energi dan transportasi. Sektor kesehatan dan keuangan jadi sumber tekanan.
Dua emiten mentok batas auto rejection atas di sesi pertama: PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) melesat 35% ke Rp162 dan PT Niramas Utama Tbk (JELI) melejit 24,91% ke Rp1.755. PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) dan PT Jasnita Telekomindo Tbk (JAST) juga masuk top gainers, masing-masing naik di atas 20%. Di sisi berlawanan, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) dan PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA) dihajar ARB.
Bursa Asia bergerak bervariasi sepanjang hari. Nikkei menguat 1,38%, Shanghai Composite naik 1,65%, Straits Times ikut terkerek 1,16%. Hong Kong jadi pengecualian, Hang Seng terkoreksi 0,70%.
Tapi di balik penutupan hijau itu ada catatan yang agaknya lebih penting. Asing mencatat net sell Rp221,68 miliar di sesi pertama, dan tekanan jual ini berlanjut hingga penutupan. Bukan anomali satu hari.
Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, melihat tren ini mencerminkan sesuatu yang lebih dalam. Investor asing berbasis indeks, kata Liza, belum punya alasan kuat untuk menambah eksposur sebelum ada kejelasan di bulan November. Conviction pasar masih rendah. Sebagian dana bergeser ke instrumen defensif seperti money market fund, deposito, obligasi pemerintah tenor pendek-menengah, dolar, atau emas. "Di saham, investor cenderung memilih big caps yang likuid, free float lebih jelas, governance lebih baik, neraca kuat, serta punya arus kas dan dividen stabil," tutur Liza.
Dari sisi teknikal, gambaran jangka pendek masih kondusif. Reza Diofanda, technical analyst BRI Danareksa Sekuritas, menyebut IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan support di 5.734 dan resistance psikologis di 6.000. Penguatan kemarin ditopang tiga katalis: kenaikan cadangan devisa Indonesia menjadi US$145,6 miliar, rencana insentif PPN DTP untuk sektor properti, dan ekspektasi kebijakan pemerintah yang lebih pro-pertumbuhan. Nilai transaksi yang masih tipis di kisaran Rp10 triliun sehari sebelumnya, kata Reza, mengindikasikan investor masih selektif.
Ada satu variabel yang menambah berat langkah IHSG untuk rerating secara struktural. MSCI Inc bulan lalu membekukan saham Indonesia dalam review indeks Agustus 2026, termasuk peningkatan foreign inclusion factors dan number of shares dalam MSCI Global Investable Market Indexes. Penyedia indeks itu menilai kualitas informasi dan transparansi pasar domestik mengalami penurunan, meski status Indonesia di emerging markets tetap dipertahankan. "MSCI akan tetap menghapus saham-saham yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka High Shareholding Concentration," demikian bunyi pengumuman MSCI pada Selasa (7/7/2026).
OJK tidak tinggal diam. Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, menyebut pengumuman MSCI sebagai momentum untuk memperkuat dan mengakselerasi agenda reformasi pasar modal yang sudah dicanangkan sejak awal tahun. Liza sendiri mendorong agar regulator bisa menyajikan bukti before and after implementasi aturan baru dalam satu bulan ini, supaya ada dasar nyata bagi investor untuk kembali percaya.
Level 6.000 tinggal selangkah secara teknikal. Tapi tanpa partisipasi asing yang bermakna, siapa yang akan mendorong indeks ke sana?