JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IHSG Tergerus 19%, Rupiah Cetak Rekor Terendah: OJ...

Ekonomi

IHSG Tergerus 19%, Rupiah Cetak Rekor Terendah: OJK Gelar Jaring Pengaman

Di tengah tekanan geopolitik Selat Hormuz yang mendorong minyak dunia ke level tertinggi, OJK memperpanjang sejumlah kebijakan stabilisasi pasar hingga September 2026 setelah IHSG kehilangan hampir seperlima nilainya secara year to date.

Rupiah menyentuh Rp17.410 per dolar AS. IHSG sudah tergerus 19,33% sejak awal tahun. Dua angka itu sudah cukup.

OJK tidak tinggal diam. Dalam konferensi pers hasil RDKB April 2026 yang digelar virtual Selasa (5/5/2026), Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi membeberkan serangkaian langkah yang sudah berjalan bersama self regulatory organization (SRO): kebijakan buyback saham tanpa RUPS diperpanjang, implementasi pembiayaan transaksi short selling ditunda, kebijakan trading hold dan batasan auto rejection dipertahankan, semuanya sampai September 2026.

"Kami mengharapkan dengan adanya kebijakan tersebut akan menjaga stabilitas di pasar saham Indonesia," kata perempuan yang akrab disapa Kiki itu.

Bukan cuma soal saham. OJK memperketat pemantauan aktivitas valuta asing di lembaga jasa keuangan, mencakup pengawasan posisi devisa neto harian dan kepatuhan ketentuan valas secara lebih intensif, plus supervisory dialogue langsung dengan lembaga-lembaga terkait. Koordinasi dengan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga diperkuat.

Kiki punya satu poin yang ia tekankan berkali-kali: stabilitas bukan sekadar tameng defensif. "Kalau kita melihat ya, stabilitas yang kita jaga ini tentunya akan menjadi modalitas utama untuk kita terus mendorong pertumbuhan ke depan," tuturnya.

Pemicunya datang dari Selat Hormuz. Iran meningkatkan serangan terhadap kapal dan fasilitas energi di kawasan, termasuk kebakaran di pelabuhan minyak Uni Emirat Arab. AS merespons lewat inisiatif Project Freedom, mengerahkan 15.000 personel militer dan lebih dari 100 pesawat untuk membuka jalur pelayaran. Iran memperingatkan akan menyerang kekuatan asing mana pun yang berani masuk ke selat itu.

Harga minyak meledak. Brent bertengger di kisaran 113-114 dolar AS per barel, WTI di 105-106 dolar AS per barel. Bagi Indonesia sebagai net importir, ini bak pedang bermata dua: neraca pembayaran terancam, inflasi berpotensi ikut terkerek.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai volatilitas bakal terus menghantui pasar, apalagi negosiasi damai masih buntu terutama soal isu nuklir Iran. "Ketegangan kembali meningkat setelah gencatan senjata empat pekan lalu, sementara negosiasi damai masih buntu, terutama terkait isu nuklir," sebut Liza dalam kajiannya.

Bursa global pun tidak kondusif. Wall Street Senin malam kompak amblas: Dow Jones tergerus 1,13% ke 48.941,90, S&P 500 melemah 0,41% ke 7.200,75, Nasdaq terkoreksi 0,21% ke 27.651,82. Eropa senasib, Euro Stoxx 50 ambles 2,18%, DAX Jerman turun 1,24%.

Data domestik? Campur aduk, agaknya.

Inflasi IHK April 2026 melandai ke 2,42% dengan inflasi inti di 2,44%, sinyal bahwa tekanan harga masih terkendali. Neraca perdagangan surplus 3,32 miliar dolar AS, memperpanjang tren positif 71 bulan berturut-turut. Angka yang terdengar gagah.

Tapi surplus itu datang dari kondisi yang tidak ideal. Ekspor turun 3,1% secara tahunan, impor anjlok ke 1,51% yoy, cermin dari permintaan yang lesu, baik dari luar maupun dari dalam. PMI manufaktur kembali masuk zona kontraksi di 49,1. Artinya: aktivitas industri sedang tidak baik-baik saja.

Reformasi integritas pasar modal, kata Kiki, tetap berjalan paralel. Kepercayaan investor tidak boleh ikut goyah hanya karena badai global sedang kencang. Setidaknya, itu yang ingin ditunjukkan OJK lewat serangkaian langkah hari ini.