Sempat menguat di awal sesi hingga menyentuh 6.286,87, IHSG kemudian berbalik arah dan tak beranjak dari zona merah sepanjang sesi pertama perdagangan Selasa (26/5/2026). Indeks ditutup turun 56,67 poin atau 0,91% ke posisi 6.149,68, bahkan sempat menyentuh titik terendah intraday di 6.132,34 sebelum sedikit pulih.
Tiga nama yang sudah akrab di layar trading mana pun jadi biang tekanannya. PT Astra International Tbk (ASII) jadi penekan terbesar dengan kontribusi minus 11,97 poin, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan minus 10,98 poin, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang menyumbang koreksi 9,7 poin. Secara sektoral, konsumer primer, properti, dan finansial mencatat pelemahan paling dalam.
Deretan bank besar kompak tergerus. BBCA amblas 1,64% ke Rp6.000 per saham, BBRI tergelincir 2,21% ke Rp3.100, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melemah 1,54% ke Rp3.830, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang relatif lebih tangguh pun tetap terkoreksi 0,47% ke Rp4.200. Dari 818 saham yang aktif diperdagangkan, 396 berakhir di zona merah, 253 menguat, 169 stagnan. Nilai transaksi sesi pertama tercatat Rp9,13 triliun dengan volume 15,32 miliar saham.
Konteks globalnya agaknya lebih rumit dari sekadar risk-off biasa. Harga minyak mentah justru amblas tajam seiring munculnya optimisme atas negosiasi AS-Iran di Doha. Brent crude tumbang sekitar 7% ke US$96,14 per barel, WTI melemah lebih dari 6% ke US$90,30. Dalam kondisi normal, penurunan harga energi seharusnya jadi angin segar bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia yang notabene net importer minyak. Tapi pasar lokal malah ikut tergerus. Bukan terbang.
Salah satu penjelasannya: investor domestik sudah masuk mode konsolidasi sejak sebelum sesi dibuka. Libur panjang Idul Adha yang menutup perdagangan Rabu dan Kamis membuat sebagian pelaku pasar memilih memangkas posisi ketimbang menanggung risiko semalaman tanpa bisa keluar. Sentimen wait and see itu nyata, dan kali ini tercermin jelas di harga.
Pembicaraan AS-Iran memperlihatkan kemajuan, termasuk pembahasan soal pembukaan kembali Selat Hormuz dan isu nuklir. Donald Trump mengklaim negosiasi berjalan baik, meski dalam napas yang sama memperingatkan opsi militer tetap terbuka kalau diplomasi gagal. Marco Rubio menegaskan jalur diplomatik masih jadi prioritas. Sementara itu, Israel dilaporkan terus meningkatkan serangan di Lebanon, dan Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone siluman di Teluk Persia. Bukan main rumitnya lanskap yang harus dibaca trader hari ini.
Bursa Asia sendiri bergerak variatif. Kospi Korea Selatan justru mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di 8.094,90. Nikkei Jepang sedikit terkoreksi 0,18% setelah sehari sebelumnya menembus level psikologis 65.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah. ASX Australia melemah tipis 0,17%.
Dua hari perdagangan tersisa sebelum libur panjang, dan ketidakpastian global masih tebal. Sesi kedua hari ini kemungkinan tidak akan jauh berbeda nadanya: posisi dijaga, jari-jari bersiap di tombol jual.