SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IHSG Reli Lima Hari, tapi MSCI Masih Bekukan Saham...

Bisnis

IHSG Reli Lima Hari, tapi MSCI Masih Bekukan Saham RI di Agustus 2026

IHSG ditutup menguat 1,19% ke 5.986,50 pada Selasa, memimpin bursa Asia. Di saat bersamaan, MSCI resmi mengumumkan pembekuan saham Indonesia dilanjutkan dalam tinjauan Agustus 2026.

IHSG naik 1,19% meski MSCI batasi saham RI pada review Agustus

IHSG menutup sesi Selasa (7/7) dengan kenaikan 1,19% atau 70,43 poin ke level 5.986,50, menggenapi reli lima hari berturut-turut. Cukup langka. Total nilai transaksi hampir menyentuh Rp10,4 triliun, dengan Rp9,64 triliun di antaranya terserap di pasar reguler dan sisanya Rp749 miliar di pasar negosiasi.

Sebanyak 430 saham ditutup menguat, 212 melemah, dan 141 stagnan. Sektor properti memimpin penguatan dengan lonjakan 3,23%. Teknologi jadi satu-satunya sektor yang terkoreksi, itupun cuma 0,54%. Bukan kondisi yang buruk sama sekali.

Tiga raksasa perbankan lagi-lagi mendominasi transaksi. BBCA memimpin dengan nilai transaksi Rp1,15 triliun, sahamnya naik 2,86% ke Rp6.300 per lembar. BBRI menyusul dengan Rp756,06 miliar, menguat 2,51% ke Rp2.860 per lembar. BMRI ikut menghijau dengan nilai transaksi Rp732,85 miliar, naik tipis 0,99%. Ketiga big bank seolah jadi tulang punggung indeks di setiap sesi bullish.

Di level regional, IHSG tampil sebagai juara. KOSPI Korea Selatan dihajar 4,91%. TWSE Taiwan terkoreksi 2,31%, SET Thailand amblas 0,87%. Satu-satunya yang menemani IHSG di zona hijau hanya PCOMP Filipina (naik 0,37%) dan NIFTY India (0,11%). Rupiah pun ikut menguat 0,08%, bertahan di bawah Rp18.000 per dolar AS.

Tapi di balik euforia itu, ada kabar yang agaknya belum sepenuhnya terpricing oleh pasar ritel. MSCI secara resmi mengumumkan pembekuan saham-saham Indonesia dalam Tinjauan Indeks Agustus 2026 tetap berlanjut, melanjutkan kebijakan yang sudah berjalan sejak Januari tahun ini.

Tiga kebijakan MSCI dipertahankan sekaligus. Seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) tetap dibekukan. Tidak ada tambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Dan tidak akan ada penyesuaian segmen ukuran indeks untuk saham RI, termasuk perpindahan dari Small Cap ke Standard. "Tidak melakukan penambahan saham ke dalam MSCI Investable Market Indexes," tulis pengumuman resmi MSCI, Selasa (7/7/2026).

Satu poin yang luput dari perhatian banyak investor: MSCI juga tetap menghapus saham-saham RI berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari indeks globalnya. "Menghapus saham yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka High Shareholding Concentration (HSC)," tulis lembaga itu dalam pengumuman yang sama. Lebih jauh, MSCI akan menggunakan ambang keterbukaan kepemilikan 1% untuk menyesuaikan estimasi free float, standar yang selama ini menjadi kerikil dalam negosiasi antara OJK dan lembaga pengindeks tersebut.

Pada Juni lalu, MSCI sempat memberi sinyal yang bisa dibaca dua arah: pasar saham Indonesia dikembalikan ke kelompok emerging market Asia Pasifik, bukan diturunkan ke frontier market. Tapi ancaman downgrade itu belum benar-benar tutup buku. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai barometer, reformasi pasar modal masih harus berlari lebih kencang dari jadwal yang ada. Entah kebetulan atau tidak, penguatan IHSG hari ini terasa seperti mengabaikan ketidakpastian struktural yang belum selesai. Pertanyaannya, sampai kapan?